Pilihan Akan Tetap Ada


Sangat menyenangkan setiap kali ngobrol atau sekedar cerita-cerita pengalaman dengan teman. Teman lama, atau bahkan teman baru sekalipun. Dari masalah paling lucu menurut kita, sampai dengan masalah-masalah yang agak krusial atau yang membutuhkan solusi. “Ya mungkin karna sayanya yg kadang suka cerewet, eh bawel malahan.”

Sharing akan semakin seru ketika menemukan dua paradigma yang berbeda. Semisal, dia menceritakan pengalamannya tentang sebuah kejadian yang memaksanya tidak bisa memilih atau sudah memilih salah satu tapi rasa-rasanya tetap sama saja hasilnya. Dan akhirnya dia menyimpulkan bahwa tidak ada pilihan lagi. Yang menjadi kekhawatiran adalah jika pada akhirnya dia terlalu mudah untuk menyimpulkan bahwa hal-hal sulitnya terjadi karena tidak ada lagi pilihan lain.

Karena memang masih banyak yang beranggapan bahwa beberapa hal memang harus dipilih karena tidak  ada pilihan lain lagi. Padahal itu salah, karena serumit apapun masalah tetap saja ada yang namanya pilihan. Itulah kenapa, ada baik ada jahat. Ada hitam ada putih. Ada kanan ada kiri, dan sebagainya. Selalu ada dua sisi, dan kita harus memilih salah satunya. Tidak ada alasan tidak ada pilihan lain.

Mari lihat para pengemis atau pengamen di lampu-lampu merah itu. Ada yang mengatakan bahwa mereka melakukan itu karena tidak ada pilihan lain lagi, kalau pun bisa memilih pasti mereka tidak jadi pengamen atau pengemis. Padahal salah, tetap saja apapun yang mereka lalukan itu adalah pilihan mereka. Bisa saja kok mereka tidak mengamen tapi kerja lain atau bahkan sekolah. Tapi mereka memilih jalan yang mudah, yang bisa menghasilkan rupiah lebih cepat saat itu, yaitu mengamen. Satu hari bisa mengumpulkan uang 50 atau 100 ribu bukankah income yang lumayan menggiurkan? Mereka bisa saja memilih kerja lain atau memilih sekolah dulu, tapi pilihan itu akan cukup sulit mereka lalukan. Karena itulah mereka memilih jalan yang lebih mudah. Yang kita soroti disini bukanlah sekolah atau mengamennya, tapi pilihan yang tetap ada disegala aspek. Karena memang benar, apapun itu tetap saja ada pilihannya.

Setelah kita memilih salah satu keputusan maka yang timbul adalah sebuah tanggung jawab yang menyertai pilihan itu. Tidak akan pernah ada pilihan yang tanpa resiko. Nah, resiko itulah yang akhirnya kita pertanggung-jawabkan. Mari beri satu contoh, kita memilih untuk memutuskan menempel stiker pada mobil atau motor dengan kutipan ayat dari Kitab Suci. Seteleh kita memutuskan untuk menempelkannya, ada tanggung jawab moral di dalamnya. Ya buat apa kalau kita tempel stiker bertuliskan “Kasih Itu Panjang Sabar” tapi hanya gara-gara angkutan kota (angkot) nurunin penumpang kemudian agak macet sedikit lantas kita teriak menggoblok-goblok’an sopirnya? “Apa gak malu sama stiker?”

Itu sedikit contoh simple. Dan apabila pada suatu ketika kita menumakn hal yang lebih rumit dan pilihan sudah kita pilih semua tetapi masih saja resultnya itu-itu saja, coba tenang sebentar, flashback, diam, dan renungkan, bahwa ada yang salah sama diri kita– dan dalam diam, kadang justru timbul pemikiran atau keputusan yang lebih bijaksana. Jangan menyalahkan keadaan, jangan menyalahkan orang sekitar, jangan menyalahkan Tuhan. Karena pilihan itu kita yang memilih. Kita yang harus mempertanggung-jawabkannya. Bukan dipertanggung-jawabkan karena untuk apa, tapi karena kita yang memilihnya.

GOD be with you!

About bayyudwisusanto


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: