Mereka Juga Punya Harga


Di tempat kerja saya yang sekarang, saya terletak dibagian yang sering bersinggungan langsung dengan para asisten pelaksana, “ya gampangnya office boy atau OB lah.” Dari situ saya kemudian banyak belajar hal-hal baru, belajar juga menghadapi permasalahan-permasalahan baru. Karena bukan hanya satu atau dua orang yang langsung saya hadapi, belasan orang malahan. Setiap harinya ada kelakuan mereka yang lucu, menyenangkan, bahkan yang menjengkelkan juga ada. Saya sadar, menghadapi mereka kuncinya ada di cara berpikir. Bukan bermaksud merendahkan, tapi pendidikan yang saya terima lebih banyak daripada mereka. Jadi mau tidak mau, saya yang harus memahami mereka, bukan terus-terusan mereka yang harus selalu memahami saya.

Suatu hari ada salah satu office boy yang melakukan kesalahan. Kemudian teman saya menganjurkan untuk catat namanya lalu laporkan ke supervisornya, biar dapat teguran atau surat peringatan. Cara itu memang bisa dibilang akan membuat jera si office boy secara instant. Tapi apakah dengan cara itu kemudian masalah selesai? “Yakin selesai? Bukan justru babak permasalah baru, akan dimulai?”

Biasanya kalau ada yang seperti itu, saya bilang ke office boy yang lain untuk menyampaikan pendapat saya atas kesalahannya. Biarkan mereka bicarakan dengan cara mereka. Karena kalau saya langsung melaporkan ke supervisornya bisa jadi akan ada dendam yang timbul. Dengan demikian saya yang akan jadi sumber dosanya, saya yang jadi akar pahitnya. “Karena kita kan tidak boleh mendendam.” Bukankah dendam itu dosa? Dan bukankah yang menjadi sumber dendam lebih dosa? Dan selama ini, itu yang saya hindari.

Office boy ditempat saya kerja biasanya dimintai tolong untuk beli makan siang. Suatu hari teman saya yang juga titip dibelikan makan siang, menegur si office boy, “eh, mana kembaliannya yang seribu limaratus?” Teguran itu disampaikan di depan karyawan-karyawan lain yang sedang makan siang di pantry. Saya tau kejadian itu karena si office boy kemudian cerita ke saya.

“Begini…, okelah mereka office boy. Tapi mereka punya nama lho, mereka punya usia, mereka punya harga.” Minimal dipanggil mas, atau mang, mungkin akan menunjukkan bahwa mereka kita hargai, dan menunjukkan bahwa sekolah atau kampus bukan hanya sekedar menciptakan manusia pintar, tapi juga manusia yang punya kepribadian sopan. Semua gelar, semua pengetahuan, semua kepintaran yang kita punya, jika sopan saja tidak bisa, ya nothing lah jadinya.

Hampir setiap hari kita para karyawan dilayani oleh mereka. Dan sepertinya harus ada kalanya satu ketika, kita ikut bersama-sama mereka melayani. Bersama-sama mereka ikut menjenguk salah satu dari mereka yang sakit, misalnya. Dan disitulah akhirnya “terdidik” mendapatkan nilai A.

Tuhan memberkati.

About bayyudwisusanto


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: