Enggak Malu Sama Stiker?


Jakarta, macet, lampu merah, nyebrang sembarangan, angkot berhenti seenak udel sopirnya, lalu apalagi? Masih banyak toh yang lebih aneh? Saya salah satu dari ratusan bahkan ribuan karyawan swasta yang setiap jam setengah tujuh pagi sudah harus jalan, berangkat ke kantor. Sepagi itu saja, sudah banyak keanehan di jalanan ibukota ini. Macet misalnya. Hanya dengan keadaan menjengkelkan yang akrab disebut dengan macet, banyak hal-hal lucu sampai aneh yang bisa dilihat. Dari klakson yang tan.. tin.. tan.. tin.. dari berbagai penjuru, sampai spion angkot yang digeplak sama pemotor.

“Begini lho, sampeyan sama saya udah tau kalau macet ini karena angkot yang berhenti sembarangan jauh di depan sana, masih aja diklakson-klakson, emang sampeyan gak punya mata, ha?” Lebih baik anda turun, jalan kedepan, kemudian bilang sama sopirnya suruh minggir atau buruan jalan. Habis perkara.

Stiker yang ditempel di motornya saja potongan ayat kitab suci, eh hanya gara-gara macet segitu aja udah kaya orang kecopetan marahnya. ”Enggak malu sama stiker?” Percuma kita mengeluh macet, Jakarta itu dari kakak kita belum lahir pun sudah macet. “Open minded aja lah,” kalau tidak ada macet justru kita ugal-ugalan. Kalau akhirnya kecelakaan karena ugal-ugalan, memangnya kita ditolongin? Yakin ditolongin, bukannya justru disukurin?

Sama saja seperti nama. Nama boleh bagus, seperti nama-nama tokoh agama jaman dulu. “Eh kelakuannya kaya apaan tau.” Kalau mau berdalih apalah arti sebuah nama, simpan dalihnya buat ngerayu gebetan saja sana. Bapak ibu kita jauh-jauh hari sebelum anaknya lahir sudah menyiapkan nama yang terbaik untuk anaknya. Supaya kelak kelakuan dan kehidupan anaknya banyak berkahnya. Slamet, misalnya. Orang tua kita memberi nama Slamet itu pasti supaya anaknya selamat dalam mengarungi kehidupannya. Teman saya ada yang namanya Imam. Dan saya yakin bapak ibunya ingin sekali anaknya itu menjadi seorang imam, seorang panutan, minimal untuk anak dan istrinya kelak.

Jadi kalau misalnya anda sudah memutuskan untuk menempel stiker di motor dengan tulisan potongan ayat kitab suci, “ya mbok iya o” kelakuannya dijalanan itu dijaga. Ada tanggung jawab yang harus dipertanggung-jawabkan pada keputusan anda yang memutuskan untuk menempel stiker bertuliskan potongan ayat kitab suci tersebut.

Kemudian untuk nama, saya yakin kalau ada harapan yang dititipkan orangtua kita untuk setiap nama yang diberikan kepada anak-anaknya. Bicara soal harapan, kita bisa sedikit mengaitkannya dengan doa. Jadi, dalam setiap nama-nama kita, ada aliran doa yang dititipkan oleh orangtua kita. Kalau pada akhirnya kita beranggapan apalah arti sebuah nama, rasanya aliran doa itu tadi sudah kering. Dan yang mengeringkannya adalah, kita sendiri.

Tuhan memberkati.

About bayyudwisusanto


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: