Mencemooh Milik Sendiri


Masih ingat sewaktu Stadion Gelora Bung Karno dipadati sekitaran 80 ribu penonton yang lebih dari 90% nya pendukung Timnas Indonesia? Ya, itu terjadi pada gelaran Piala Asean Football Federation (AFF) tahun 2010 silam. Gemuruh riuh suara suporter membahana sepanjang pertandingan. Tak pandang itu laki-laki atau perempuan, entah apa agama anda, entah etnis anda apa, yang jelas mereka satu semangat dan semua bersatu menyanyikan lagu Garuda Di Dadaku. Timnas dielu-elukan, dipuji tanpa henti, tidak ada yang tidak bangga dengan Timnas Indonesia kala itu. Begitu pula di tahun 2011 pada gelaran Sea Games U23. Atmosfer semangat AFF 2010 terbawa ke Sea Games 2011. Meski akhirnya kalah di partai final, tapi masyarakat tetap bangga dengan perjuangan para pemain.

Tapi sekarang mana? Sekarang apa yang diteriak-teriakkan? Gemuruh nyanyian Garuda di Dadaku sekarang bergemuruh di belahan bumi bagian mana? Ketika Timnas sedang berlaga di gelaran AFF 2012 sekarang-sekarang ini apakah masih ada semangat AFF 2010 dan Sea Games 2011 itu? Boro-boro nyanyi, baru tau kalau hasil pertandingan Indonesia lawan Laos berakhir imbang 2-2 aja udah pada ngeluh. Masih mending cuma ngeluh, lha ini malah menghujat, mencomooh dan apalah itu namanya.

Okey, saya setuju jika kita bilang bahwa kepengurusan persepakbolaan di Indonesia saat ini memang carut marut. Penyalah gunaan wewenang demi kepentingan pribadi atau kelompok masih menghiasi cara memimpin para pemimpin PSSI. Tetapi yang mau ditanyakan sekarang adalah, cara memimpin yang seperti itu bukankah sudah terjadi dari kapan tau? Ketika Piala AFF 2010 dan Sea Games 2011 cara memimpin para pemimpinnya juga sudah seperti ini. tapi kenapa Timnas yang sedang berlaga di Piala AFF 2012 saja yang dicemooh? Apakah itu adil? Ini sangat menggelikan, karena mungkin cuma di Indonesia yang Timnas Sepakbolanya dihujat sama masyarakatnya sendiri.

Saya yakin bahwa kita para penikmat sepakbola pasti suka nonton Piala Dunia. Perhatikan para suporternya, mereka sangat loyal dengan Timnasnya. Rela mengambil cuti kerja demi mendukung Timnasnya di Piala Dunia, rela bepergian ke negara lain tempat penyelenggaraan piala dunia. Mau kalah mau menang semangatnya sama saja. Yakin deh, kenapa mereka seperti itu pasti karena mereka merasa punya tanggung jawab untuk menjadi penyemangat bagi Timnas negara mereka masing-masing. Coba bandingkan dengan masyarakat kita. Mungkin tidak semua masyarakat Indonesia mencemooh Timnas Indonesia, tetapi meski itu hanya satu atau dua orang rasanya cukup membuat prihatin.

Lupakan permasalahan yang ada di kepengurusan PSSI. Yang ada di depan kita sekarang adalah para pemain, pelatih, dan official sedang berjuang dengan sekuat tenaga mereka. Siapa yang tidak ingin menang, siapa yang tidak ingin didukung dengan gemuruh semangat yang membahana? Dan, siapa yang seharusnya bertanggung jawab memberi dukungan? Mari lihat semangat pelatih Timnas yang sekarang, Nil Maizar. Ada pelatih yang mengundurkan diri melatih Timnas hanya karena haknya dalam memilih pemain dibatasi, tetapi Nil Maizar terus maju melatih Timnas di tengah cemooh dan perendahan yang terlontar kepadanya. Yang harus kita contoh adalah tanggung jawabnya sebagai seorang nasionalis. Bahkan seorang Lukas Podolski, penyerang Timnas Jerman dan club Arsenal sebagai wujud nasionalismenya menyatakan kesediaannya bermain untuk Timnas Jerman meski dia harus bermain sebagai pemain belakang, padahal kita tau bahwa dia seorang pemain depan (striker).

Jika rasa nasionalisme seorang Nil Maizar ditunjukkan dengan tetap bersedia melatih Timnas meski haknya memilih pemain dibatasi, harusnya rasa nasionalisme kita ditunjukkan dengan cara tetap menyemangati Timnas apapun hasilnya. Yang salah bukan pemain dan pelatih, yang salah hanyalah cara kepemimpinan para pemimpin PSSI. Jadi bukankah tidak adil jika pemain dan pelatih Timnas dicemooh?

Yang menarik ditunggu adalah, apabila nanti ketika ternyata Timnas Indonesia berhasil menjuarai Piala AFF 2012, apakah para pencemooh tetap mencemooh atau balik mendukung dan mengidam-idamkan Timnas, tanpa tau malu? Jika saja masih mau mengingat, coba ingat kemenangan Timnas Malaysia atas Timnas Indonesia pada Piala AFF 2010. Waktu itu suporter Indonesia mencemooh, menghujat, mencaci Timnas Malaysia bahkan Lagu Kebangsaannya juga. Kapten Timnas Malaysia lantas berkata kepada pemain lainnya sebagai wujud pembakar semangat : “Mereka tidak menghargai kita, tidak menghargai negara kita, tidak menghargai lagu kebangsaan kita. Mari buktikan dan buat mereka malu atas perbuatannya.” Dan apa hasilnya? Indonesia kalah atas malaysia, dan Malaysia menjadi Juara di kandang Indonesia. Siapa yang akhirnya malu?

TUHAN memberkati.

About bayyudwisusanto


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: