Coba Aja Dulu.


Masih banyak yang beranggapan bahwa mencoba atau coba-coba sebagai hal yang beresiko. Ya memang benar sih, untuk beberapa hal memang coba-coba merupakan hal yang beresiko, tapi jika anggapan beresiko itu kemudian dialokasikan ke semua persoalan sepertinya bukan pemikiran yang bagus. Kenapa bukan pemikiran yang bagus? Karena ada beberapa bahkan justru banyak hal yang awalnya memang perlu dicoba-coba dulu baru kemudian tau bagaimana rasanya, dan kemudian bisa ambil keputusan untuk lanjutkan atau berhenti sampai disitu.

Teman saya seorang sarjana, melamar di sebuah perusahaan kemudian diterima. Baru sebulan bekerja kemudian dia memutuskan untuk mengundurkan diri. Ketika saya tanya kenapa dia ambil keputusan itu, jawabnya ringan : “Kerjaan sama salary enggak sesuai”. Well, alasan klasik nampaknya, kalau memang itu sudah keputusannya ya mau diapakan lagi? Tapi tunggu dulu, pertanyaannya adalah, skill apa yang dia punya semasa kuliah? Pengalaman apa yang pernah dia dapat? Atau, dia punya karya apa yang bisa jadi nilai jualnya? Kalau jawabannya adalah nihil, lalu atas dasar apa dia jual mahal?

Menurut saya, alasan karena “kerjaan sama gajinya tidak sesuai” terdengar sedikit manja. Kenapa manja? Ya karena baru segitu saja sudah mengeluh. Padahal banyak orang menemukan passionnya yang berawal dari mencoba banyak hal. Banyak orang menemukan kebahagiaannya dalam bekerja berawal dari mencoba. Bahkan kita bisa mendapatkan perhatian yang lebih dari seseorang, berawal dari mau mencoba memberi kesempatan pada dia untuk menunjukkannya. Karena kalau tidak pernah kita coba ya tidak pernah kita bisa tau?

Kemudian ada juga beberapa penyesalan yang kita rasakan ketika beberapa hal yang seharusnya perlu untuk kita coba tetapi kita lewatkan dengan alasan masih menunggu yang terbaik. Semisal, kita menolak untuk bekerja di perusahaan yang masih kecil tanpa memikirkan potensi yang ada di dalam perusahaan tersebut. Ketika kebutuhan semakin banyak, kita masih nganggur karena  belum juga dapat pekerjaan di tempat yang kita dambakan. Apa hasilnya? Bukankah kita akan bekerja apa saja demi mencukupkan kebutuhan yang semakin banyak itu? Ketika kita baru sadar dan baru mau kerja apa saja, perusahaan yang kita tolak dulu itu sekarang sudah besar dan kita balik ditolaknya. Siapa yang menyesal?

Contoh simple berikutnya adalah ketika kita memilih pasangan. Karena terlalu sempurnanya kriteria yang kita targetkan, mengakibatkan kita melewatkan orang-orang yang punya potensi luar biasa (meski saat itu belum begitu terlihat keluar biasaannya) yang waktu itu ingin berhubungan dengan kita. Lalu seiring berjalannya waktu usia semakin menuntut, kalau sudah seperti itu bukankah kita akan mencari pasangan yang seadanya saja? Pasangan yang punya potensi luar biasa meski kala itu belum begitu tampak, kita lewatkan begitu saja. Dan sekarang justru kita hanya mempunyai pasangan yang seadanya saja. Siapa yang menyesal?

Dari conto-contoh simple itu ternyata masih ada beberapa hal yang seharusnya kita coba, tetapi kita lewatkan yang akhirnya hanya akan menghasilkan penyesalan. Mungkin simplenya begini, “kita enggak akan pernah tau apa rasanya atau apalah itu namanya, kalau kita enggak pernah mau coba, meski itu sedikit atau cuma sebentar”

TUHAN memberkati.

About bayyudwisusanto


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: