Yang Salah Siapa?


Sebenarnya salah siapa kalau ada pernyataan seperti ini :  “Kalau kaya gini dosennya, ya yang pinter makin pinter yang bodoh makin bodoh”

Sebenarnya salah siapa kalau ada pernyataan seperti ini :  “Kalau seperti ini ya yang kaya makin kaya yang miskin makin miskin”

Sebenarnya salah siapa kalau ada pernyataan seperti ini :  “Ah, gelar Sarjana belum tentu menjamin dapat kerjaan yang bagus. Ada aja tuh Sarjana yang nganggur”

Dalam kapasitas kita sebagai manusia memang benar kalau kita tidak bisa memutuskan begitu saja bahwa si ini salah, si itu salah, hanya dengan apa yang kita lihat, bukan berdasarkan data dan bukti yang sebenarnya. Tapi karena ada beberapa dari kita yang karena ingin membela dirinya atas ketidak mampuannya untuk mengikuti pelajaran, membela dirinya atas ketidak mampuannya untuk berusaha lebih sehingga dia pantas untuk jadi kaya, dan membela dirinya atas ketidak mampuannya atau karena dia terlalu pemilih atau mungkin justru  dia tidak punya nilai lebih sehingga perusahaan mau menerimanya untuk bekerja, ya karena itu bolehlah kalau kita menyatakan bahwa si pribadi tersebut yang salah. Kenapa salah, ya karena pernyataan yang dia lontarkan hanya sekedar pembelaan diri.

Si dosen ini cara ngajarnya begini, makanya kalau kaya gitu yang pinter makin pinter yang bodoh tambah parah bodohnya. Ini satu contoh, menyalahkan dosen atas ketidak mampuannya mengikuti pelajaran yang mengakibatkan dia nampak lebih bodoh dibanding yang lainnya. Kalau salah dosen, ya masa’ ada yang pinter dikelas itu? Dari pada dosen dikambing hitamkan, apa tidak lebih baik tanya sama si pintar gimana caranya kok bisa mengikuti cara ngajar si dosen. Sewaktu si pintar belajar kita malah pergi main entah kemana, hal seperti itu kalau kita tidak bisa mengikuti pelajaran di kelas kan salah kita, bukan salah dosen dengan cara ngajarnya kan?

Harga kebutuhan memang terus merangkak naik, ditambah lagi harga BBM yang bisa naik kapan saja. Tetapi sepertinya tidak harus kemudian kita menyerah dengan pernyataan “kalau seperti itu ya yang kaya makin kaya yang miskin makin miskin.” Kita masih bisa bekerja, kita punya tenaga, kita punya kemampuan. Tunjukkan saja perform bagus kita sewaktu kerja, yakin deh, tidak akan atasan itu diam saja kalau perform kita bagus, pasti ada reward untuk yang sungguh-sungguh, dan semua perusahaan membutuhkan orang yang mau ber-perform bagus dalam setiap kerjaanya. Jadi ya kalau harga kebutuhan dan BBM naik, harusnya kita juga menaikkan perform kita, sehingga ada reward lebih juga yang akan kita dapat. Kemudian satu lagi, setelah lulus kuliah kita mau berusaha untuk terus mencari sampai dapat, maka tidak akan ada sarjana menganggur. Beda halnya kalau si sarjana diam dirumah dan merasa bahwa sarjana itu harusnya kerja disini, bukan disitu, jadi mau kerja kalau cocok sama gelarnya saja. Itu boleh saja, tapi dengan syarat si sarjana punya skill tersendiri, nah kalau dia lulus saja dulu karena nyontek, t’rus sekarang kerja milih-milih hanya karena dia punya gelar sarjana, ya tidak salah kalau banyak sarjana nganggur. Kalau sudah seperti itu yang salah siapa? Selama ini banyak pernyataan yang bertujuan untuk membela diri dan seolah-olah orang lain yang salah, padahal kalau mau berpikiran terbuka maka kita sendiri akan tau yang salah itu sebenarnya siapa.

TUHAN memberkati.

About bayyudwisusanto


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: