Sukacita Dengan Cara Yang Tidak Mudah Diterima


Waktu itu adalah masa manakala kenaikan kelas tiba. Seperti sudah adatnya, ketika kenaikan kelas maka libur panjang pun datang. Aku boleh merasakan riangnya naik tingkat ke jenjang kelas berikutnya. Tetapi riang itu tidak sejajar dengan kondisi liburanku. Lama liburan yang hampir satu bulan semua habis rata kupakai untuk menemani bapakku menjaga kakekku yang terbaring sakit di rumah sakit. Hanya sesekali ada jeda untuk kugunakan pulang kerumah. Setelahnya maka aku kembali kerumah sakit dan menginap. Kegiatan itu kukerjakan di selama liburanku kala itu. Dan semua kegiatan itu akhirnya terbayar lunas di penghujung masanya. Entah ini rasa sukacita atau rasa tidak terima. Kami semua sayang kakek, tapi TUHAN lebih sayang beliau. Untuk sekejap kami luluh lantah, tapi pada akhirnya kami sadar bahwa ini adalah kesukacitaan namun caranya yang belum bisa kami terima. Kenapa sukacita? Karena kakek berangkat lebih dulu ke sorga untuk mencarikan tempat yang bagus-bagus untuk anak cucunya.

Banyak hal yang terjadi kepada kita atau yang terjadi disekitar kita, dan hal-hal itu membuat kita terpuruk, jatuh, putus asa, atau bahkan beranggapan bahwa “Enough, karya gue, pekerjaan gue, semua hancur dan gue rasa hidup gue cukup sampai disini saja!!” Kalau untuk sekejap setelah kejadian ya okelah, karena itu sifat manusiawi kita. Tapi biarkan kebijaksanaan pikiran kita setelahnya yang berkuasa. Beranggapan bahwa ini cara TUHAN menjajal kekuatan iman kita, akan membantu kita untuk tetap kuat dan akan dinaikkan grade atau tingkatan iman kita kalau kita lulus. Karena seperti yang kita tau bahwa apa yang akan TUHAN ujikan tidak lebih dari yang kita mampu. TUHAN tidak jahat kok, tapi kenapa masih saja kalau ada masalah yang menyesakkan kita bilang “TUHAN, kenapa ini harus terjadi padaku? Kenapa Engkau jahat padaku TUHAN?” Ini kesalahan, mana pernah TUHAN kasih racun pada yang minta roti? Justru kita yang jahat, karena emosi, karena amarah, karena kesedihan maka dengan enteng kita men-judge TUHAN jahat.

Ketika kejadian itu terjadi pada kita ada dua kuasa yang akan kita rasakan dalam pikiran. Kuasa TUHAN dan kuasa jahat. Dua kuasa itu akan terus menerus menggelayuti pikiran kita. Dan kuasa mana yang akan kita pilihlah yang akan menjadi penentu perbuatan kita berikutnya. Kuasa jahat itu akan selalu membujuk kita untuk menyalahkan TUHAN, dan pada akhirnya jika kuasa itu menang maka kita tdak akan percaya lagi dengan yang namanya TUHAN. Tetapi ketika iman percaya kita berkuasa atas segala pemikrian saat itu, maka kita akan tau bahwa ini adalah cara TUHAN membuat kita menjadi lebih kuat dari yang sebelumnya. Ini bukan akhir, tapi awal dimana kita akan diperhadapkan dengan hal baru, tantangan, baru, hidup baru dan dengan iman yang baru yang lebih besar dari iman sebelumnya. Kemenangan iman sama seperti kerelaan kita untuk melepaskan orang yang kita sayang pergi. Kemenangan iman adalah sukacita, dan seperti yang kita tau bahwa setiap kemenangan terkadang datang dengan cara yang tidak mudah kita terima.

GOD be with you🙂

About bayyudwisusanto


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: