Memberi Batas


Kalau mendengar atau membaca kalimat Cepat dan Terbatas atau mungkin Cepat Tapi Punya Batas pasti langsung ingat Bus Patas. Karena tagline tersebut memang kepunyaannya dia sejak dulu, meskipun dalam kenyataannya tagline itu hanyalah sebatas tagline semata dan belum semua Bus Patas mengaplikasikan tagline kebanggaannya itu. Contohnya, masih ada aja Patas yang balapan hanya karena biar cepat sampai didaerah yang banyak penumpangnya, kalau tidak membahayakan pengguna jalan lain sih ya tidak masalah, lha ini malah karena ngebut patasnya nabrak pejalan kaki, patasnya tabrakan, atau patasnya tergelincir dan terguling. Hanya karena mengejar apa yang menurutnya harus dia dapat, akhirnya banyak yang dirugikan dan berujung kerugian pun menimpanya.

Tak perlu mengelak, diri kita sendiri pun kadang pasti pernah melakukan hal seperti itu. Seperti itu bukan yang kita diposisikan sebagai pengemudi patas, tapi kita berposisi sama dengan kemauan si pengemudi. Kita terburu-buru lalu melakukan segala kemampuan, kecepatan, kekuatan, tanpa dipikir dulu apa akibatnya kalau kita melakukannya dengan over. Kita kesiangan sedangkan hari itu ada intervew kerja, atau hari itu ada ujian di kampus, akhirnya buru-buru naik motor sekencangnya berasa usah paling jago bawa motor. Kalau Tuhan masih sayang sih mungkin sampai tempat tujuan cepet dan tidak kenapa-kenapa. Nah tapi misalnya karena menurut kita sendiri kita mampu mengendarai motor dengan kecepatan yang seperti itu sedangkan dalam kenyataannya kita mengalami kecelakaan yang disebabkan oleh pemikiran yang menurut diri kita sendiri tadi apa yang akan kita dapat?

Kecepatan, buru-buru, ugal-ugalan, bisa kita gambarkan sperti ketika kita marah. Bisa kita gambarkan seperti ketika kita sedang dalam kekecewaan yang teramat sangat. Ketika marah maka kita pasti ingin meluapkan semua kemarahan dengan hal-hal yang membuat kita puas, bahkan kadang saking ingin puasnya maka tidak peduli lagi dengan orang lainnya. Kecewa pun begitu, putus asa juga begitu, kebanyakan kasus bunuh diri mungkin karena mereka ingin meluapkan kekecewaannya atau keputus-asaannya itu tadi. Hal-hal yang dilakukan sewaktu marah atau sewaktu kecewa itu tadi sama seperti pengendara bus yang hanya ingin cepat tanpa mau tau seberapa batasnya. Orang saking marahnya terkadang tidak mau mengontrol ucapannya yang akibatnya melukai perasaan orang lain, orang yang kecewa berat akhirnya bunuh diri tanpa mempedulikan bagaimana nasib orang-orang yang ditinggalkannya. Luapan emosi yang semacam itu adalah luapan tanpa batas, yang akibatnya bukan hanya untuk dia tetapi untuk orang lain juga. Marah boleh, kecewa memang kadang iya, tapi mencoba untuk tetap memberikan batas pada setiap aksi luapkan emosi kemarahan dan emosi kekecewaan akan meminimalisir kerugian-kerugian yang akan dihasilkannya. Hal itu memang susah, tapi kita pasti bisa.

GOD be with you..🙂

About bayyudwisusanto


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: