Jika Hanya Secukupnya Maka Pahit itu Perlu, Karena Oleh Pahit Kita Tahu Apa Manis Itu


Malam itu kutemukan di internet tulisan tentang dimana kita disarankan untuk belajar dari Merpati. Tulisan itu mengajak kita untuk belajar dari Merpati, karena Merpati adalah burung yang tahu kemana dia harus pulang. Meskipun dia terbang jauh tinggi, tetapi jika waktunya pulang maka dia tidak akan pernah pulang ke rumah lain. Kita juga diajak belajar dari Merpati, karena Merpati tidak mempunyai empedu. Itu artinya dia tidak menyimpan kepahitan sehingga tidak menyimpan dendam. Setelah membacanya kemudian menelaah, ya memang benar adanya. Seperti itulah merpati, dan hal-hal baik yang merpati lakukan itu baik juga untuk kita contoh.

Beberapa waktu setelahnya, ada teman yang berkata : “Pengen banget menjadi seperti Merpati yang tidak mempunyai empedu, sehingga tidak ada kepahitan dalam diriku.” Kemudian aku berpikir apakah perkataan temanku itu  maksudnya mungkin karena dia sedang ada masalah dengan pasangannya, atau masalah dalam sekolahnya, atau masalah dalam pekerjaannya, atau mungkin saja masalah dalam keluarganya? Ah, apapun itu yang jelas menurutku dia tidak mau yang pahit-pahit itu ada padanya atau menimpanya. Tapi bukan hanya dia, tanpa disadari kebanyakan dari kita memang tidak mau yang pahit-pahit, maunya pasti yang manis-manis. Tidak mau sakit, maunya sehat terus. Maunya jadi orang sukses, tapi kerjaannya cuman tidur sama maen. Maunya dijawab semua doanya sama Tuhan, padahal berdoa saja dia jarang-jarang.

Yupsss… semua orang pasti mau lah yang manis-manis. Tapi kadang tersadar tidak sih kalau tanpa pahit kita belum tentu tahu apa manis itu? Sama halnya dengan putih, kalau tidak ada hitam bagaimana putih mau ada? Seperti diimunisasi, saat disuntik ya memang sakit benar, tapi beberapa tahun kemudian kita pasti berterima kasih karena dulu sudah diimunisasi. Terkadang  kita juga perlu sedikit ujian atau musibah dari Tuhan, agar kita ingat bahwa kita ini siapa kok sampai-sampai melupakan yang membuat kita ada. Ya seperti itulah kenapa pahit itu perlu kalau hanya secukupnya, karena oleh pahit kita tau apa manis itu. Karena memang sebagian dari kita ini termasuk ke dalam orang yang mau bergerak setelah kejadian terjadi. Misalnya baru bikin SIM setelah beberapa kali ditilang polisi, atau baru benerin genteng setelah air hujan masuk rumah karena genteng itu sebenarnya sudah lama bocor. Jadi ya jangan salahkan pahit, jangan salahkan musibah, jangan salahkan sakit. Karena oleh pahit kita tahu apa manis itu, karena dengan musibah kita kembali mesra dengan Tuhan, dan karena sakit kita bisa tau betapa enaknya sehat.

TUHAN memberkati..!!

About bayyudwisusanto


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: