Terkadang Upahnya Tidak Sekarang, Tapi Masih Nanti


Waktu itu hari sudah petang dan sudah harusnya pulang dari tempat kerja tapi aku masih berkutat dengan pekerjaan yang sebenarnya masih bisa dikerjakan keesokan harinya tapi entah apa dan mengapa aku dituntut untuk menyelesaikannya hari itu juga. Gondok, jengkel, menggerutu, semua jadi satu, “Damn, seperti besok ada inspeksi mendadak dari presiden aja!!!” Pikiran nggak tenang, kerjaan juga tersendat nggak selesai-selesai karena ngerjainnya dengan perasaan yang acakadut. Sesaat setelah dapat kabar itu spontan emosiku meledak, dari pada emosi t’rus nangis akhirnya aku melampiaskannya dengan menendang sekat ruangan yang terbuat dari triplek. Aku menendangnya hanya sekali dan itu pun sudah membuatnya retak. Setelah itu emosi mulai berkurang karena sedikit puas, kemudian kulanjutkan pekerjaanku. Dengan pikiran yang belum sepenuhnya tenang, memang menjadikan pekerjaan itu terasa susah dirampungkan.

Akhirnya aku putuskan untuk istirahat sebentar dengan tujuan meredakan emosi dan coba membuat pikiran lebih relax. Aku kembali melihat sekat pembatas yang kutendang tadi, retaknya ternyata memanjang tidak hanya ditempat yang kutendang tadi. “Waduh, kalau retaknya terlihat apa nggak jadi masalah baru ini nanti?” tanyaku dalam hati. Setelah menyadari kebodohan tindakanku aku bisa menyimpulkan sendiri bahwa apa yang kuperbuat setelah mendapat tugas itu tadi bukan menyelesaikan tugas, tapi justru menambahnya. Coba saja setelah dapat kabar tadi aku tetap tenang, coba menyedediakan waktu untuk istirahat sebentar sebelum memulainya, atau coba mengutak-atik kemungkinnan akan dapat apa kok harus tugas itu diselesaikan hari itu juga olehku. Karena memang benar bahwa setiap pekerjaan pasti ada upahnya, meski sekedar ucapan terima kasih tetapi itu sudah merupakan wujud penghargaan yang orang lain berikan setelah kita melakukan suatu hal untuknya.

Kalimat terakhir yang menyelinap dalam pikiranku sebelum kemudian aku melanjutkan pekerjaan itu dan menjadi rumus tetapku adalah “Bapakku dulu juga bekerja sangat keras bahkan lebih berat dibanding yang kukerjaan sehingga aku bisa sehebat sekarang. Dan jika semua pekerjaan yang membuat emosiku meluap ini bisa kurampungkan meski dengan susah payah pasti akan terbayar lunas  ketika aku melihat anak cucuku nanti hebatnya lebih dari padaku saat ini.” Jadi kalau mau melihat anak cucuku menjadi orang-orang yang hebat maka aku harus bisa mengalahkan emosi-emosi merugikan yang akan mengganggu pekerjaan-pekerjaanku supaya aku bisa melebihi bapakku dalam menciptakan keturunan-keturunan yang hebat dan yang akan membayar kerja kerasku dengan kehebatan-kehebatan mereka di masa mendatang. Ya, akhirnya dengan kalimat itu tadi aku bisa tetap stay cool dalam merampungkan tugas-tugas yang dipercayakan kepadaku. Dan semoga saja rumusan itu berlaku untuk menjawab kepercayaan-kepercayaan besar berikutnya yang akan dipercayakan ditempat dan waktu selanjutnya. Sebesar apa yang kita terima pasti juga tergantung sebesar apa yang kita kerjakan. Jika yang kita terima jauh lebih banyak sedangkan kita mengerjakan pekerjaan itu hanya semau-mau kita ya itu keterlaluan atau bahkan dibilang tidak tau malu. Tapi kalau yang kita terima tidak sebanding dengan apa yang sudah kita kerjakan, maka menganggap bahwa kita di tempat itu seperti pisau yang sedang ditempa dan akan menjadi pisau tajam yang dibutuhkan banyak orang di banyak tempat nantinya serta keyakinan bahwa ada upah luar biasa yang sudah diletakkan di tempat lain yang akan kita terima itu akan membuat grafik semangat kita yang meski tidak signifikan tetapi konsisten terus bergerak naik ke atas.

TUHAN memberkati.

About bayyudwisusanto


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: