Hal yang Menakjubkan Bermula dari Kemauan Kita Untuk Membuatnya Menakjubkan


Hari Senin siang tanggal 21 November 2011 aku membaca berita di Situs Berita Online yang memberitakan curhatan warga malaysia yang menyatakan bahwa suporter Indonesia di ajang Se Games XXVI 2011  tidak tau malu, bukan hanya suporter sepak bola tetapi juga suporter di semua cabang olah raga. Setiap pertandingan Indonesia melawan Malaysia pasti akan terdengar caci maki dari suporter Indonesia yang ditujukan kepada pemain Malaysia yang sedang bertanding. Setelah membaca itu kemudian aku berpikir, dan memang bener juga sih, kalau kita perhatikan memang itu semua terjadi. Ketika final cabang olah raga bulu tangkis beregu putra yang mempertemukan regu Indonesia dengan regu Malaysia itu jelas, hampir semua suporter Indonesia meneriakan cacian kepada pemain Malaysia, yang bilang maling lah, ini lah, itu lah, hal semacam itu menurutku kalau di Eropa atau Amerika sudah sama kasusnya dengan rasisme dan hukumannya tidak bisa dianggap enteng. Karena menurut bangsa-bangsa maju itu rasisme adalah pelanggaran sportivitas yang amat tidak bisa ditolerir, tidak hanya suporter yang mendapat hukuman, karena bisa jadi manajemen cabang olahraganya pun bisa dikenai sanksi.

Dan ketika cabang olah raga sepak bola yang mempertemukan Indonesia melawan Malaysia lebih jelas lagi terlihat bahwa suporter Indonesia jauh dari yang namanya sportif . Lihat saja bagaimana gaduhnya suporter Indonesia ketika lagu kebangsaan Malaysia dinyanyikan, seharusnya kita para suporter diam dan memberikan kesempatan agar lagu itu rampung dikumandangkan, karena setelahnya giliran mereka diam dan kita semua suporter iIndonesia bersama-sama menyanyikan lagu Indonesia Raya. Bagaimana mau mendapat atau melihat hasil yang menakjubkan kalau berawal dari diri kita sendiri saja tidak mau memulainya? Kita lihat Liga Inggris itu, sudah berapa belas tahun kita nonton pertandingan-pertandingan Liga Inggris? Lihat saja, ada tidak pagar pembatas antara bangku penonton dengan lapangan pertandingan bukan? Tidak ada pagar tinggi menjulang yang membatsinya, yang ada hanya papan-papan sponsor. Hal itu menandakan bahwa penonton sepak bola di Inggris sadar benar bahwa mereka datang dan masuk ke dalam stadion dengan tertib dengan maksud mendukung club kebanggan mereka, bukan untuk menciptakan kegaduhan, kerusuhan, bahkan caci maki yang tidak sedap didengar. Jangan kita bilang : “Ya mereka kan orang Inggris, sedangkan kita orang Indonesia.” Ketika statment itu terucap berarti sampai matahari meleduk pun jangan harap di Indonesia akan ada pertandingan besar dengan penonton yang santun dan ramah. “Kita bisa men seperti mereka, teratur, respect, mau ngantri, nggak rusuh, pokoknya enak deh dilihat”, itu bisa selama dari diri kita awalnya sudah mau agar hal itu terjadi, tapi kalau sedari kita sendiri saja kemauan itu tidak ada ya bisa dibilang “jangan berharap kambing beranak marmut.”

Timnas U 23 Indonesia kalah dari Malaysia dalam drama adu penalti, langsung deh suporter Indonesia marah-marah nggak ada juntrungannya, Malaysia di maki-maki, wasit pun dihujat-hujat. Terlepas dari kepemimpinan wasit yang sedikit kurang bagus kita harus mengakui bahwa permainan Timnas U 23 Malaysia memang bagus. Bagaimana tidak bagus kalau mereka memang dipersiapkan dengan bagus, dibimbing oleh manajemen yang bagus pula? Kalau kita apa coba, kompetisi nasional saja acakadut, pemilihan ketua umum organisasi tertinggi sepak bolanya saja ricuh, bukannya mau menghakimi tapi memang itu yang terjadi di depan mata kita. Coba kita menganalisa sebentar, bagaimana kalau dari dulu tidak hanya pemain Indonesia yang sportif tetapi suporternya juga sportif? Wasitnya pun pasti segan ya kan, dia tau bangsa ini mempunyai pemain yang hebat dan juga suproter yang santun dan ramah, pastilah dia akan berpikir ratusan kali untuk melakukan kesalahan dalam mengambil keputusan.

Menerima kekalahan dengan legowo dan mengucapkan selamat kepada lawan yang menang itu akan membuat mereka memberi hormat dengan membungkukkan badan kepada kita, meskipun kita kalah. Nah.. bagaimana mau legowo? Bagaimana mau dihormati lawan, kalau baru mulai pertandingan saja lawan sudah  dihujat-hujat? Perlu kita jadikan pelajaran bahwa makian dan hujatan yang kita lontarkan kepada lawan akan memicu semangat lawan menjadi beribu-ribu persen untuk mengalahkan dan mempermalukan kita. Dan terbukti benar ketika Timnas U 23 sepak bola Indonesia dikalahkan Malaysia, sebelas orang yang bertanding dengan segelintir suporter dari Malaysia itu sukses besar membungkam ratusan ribu mulut yang telah mencaci maki mereka malam itu.

Semua telah terjadi dan inilah hasil yang harus kita terima, kalau kata orang jawa  “kalah? kalah mbok wes kalah, ameh mbok apakno meneh emang’e?” Hasil sudah terlihat kalau kita kalah, mau dihujat sampe mulut pegal linu pun tidak akan mengubah hasilnya. Kita tidak akan pernah menerima hal yang belum dilayakkan untuk kita terima, bagaimana mau menerima sebuah hal yang menakjubkan kalau mau agar ketakjuban itu terjadi saja tidak mau? Berawal dari rasa mau kita, pasti kita akan melakukan hal-hal yang mendukung agar hal yang menakjubkan itu layak kita terima. “Setiap sapi berawal dari anak sapi” kalimat yang ‘ku kutip dari Facebook teman ini buatku begitu luar biasa, karena semua hal besar memang bermula dari permulaan yang kecil. Okey, sekarang kalau mau menerima hal yang menakjubkan baiklah mari kita mulai dari masing-masing pribadi kita untuk membuat hal menakjubkan itu layak untuk kita terima. Karena usia kita sudah bukan di bawah lima tahun lagi maka kalau mau dilayakkan mendapat hal yang manakjubkan pastinya kita tau apa yang harus kita lakukan dan mana yang tidak pantas dilakukan.

TUHAN memberkati..!!

About bayyudwisusanto


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: