Selembar Pelajaran di Tumpukan Penghujatan


Kalau kita flash back ke beberapa tahun yang lalu pastilah kita ingat bagaimana diolok-oloknya kita yang mengenakan batik ketika bukan di acara resmi, kalau di acara kenegaraan mungkin dimaklumi, atau di kondangan-kondangan. Tetapi di acara seperti kondangan pun kebanayak dari kita justru memilih kemeja yang polos, motif kotak, atau motif garis pokoknya bukan batik, karena kalau pakai batik pasti kita diolok-olok oleh teman-teman sebaya kita. Yang dibilang sok kaya Pak RT lah, yang sok tradisional lah, yang kuno lah, karena batik adalah pakaian tradisional maka mereka mengatakan kita kuno ketika kita memakai batik. Tetapi PARADIGMA itu hancur dan terhempas ketika Malaysia mengklaim bahwa batik berasal dari Malaysia. Sontak semua rakyat Indonesia dari desa sekecil apapun sampai ke kota besar dengan tokoh-tokoh negara yang bermukim di dalamnya muntab dan menghujat tiada henti. Di semua social network tertera kata-kata hujatan, kalimat-kalimat yang mengarah ke perkataan yang kurang sedap dibaca. Sejak itu pula kemudian muda-mudi gemar memakai batik, tidak hanya di acar resmi tetapi ke mall pun memakai batik. Rasanya begitu bangga ketika batik sudah melekat di badan. Festival-festival tentang batik digelar dimana-mana, modifikasi-modifikasi batik mulai dirancang oleh hampir semua desainer Indonesia. Pertanyaannya sekarang adalah, “Hey men, apa yang ada dalam otak lo dulu ketika lo mengolok-olok temen yang memngenakan batik?”

Well.. kita beralih ke pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial atau yang familiar disebut IPS. Ingat punya ingat mungkin kita belajar IPS tentang tari menari itu sewaktu di SD, ya mungkin awal-awal SMP juga lah. Kalau kita sekarang berusia 22 tahun berarti kira-kira sekitar sepuluh tahun yang lalulah kita belajar tentang tari itu. Kita belajar menghafal tari ini dari mana, yang itu dari mana, dan lain sebagainya. Dulu mungkin kita bisa hafal tari-tari daerah itu, tapi sekarang apa iya kita ingat? Yang kita tau paling tari tersendat-sendat atau break dance dan tari yang masih booming adalah tari hentak-hentak bumi atau dalam bahasa gaulnya disebut shuffle dance. Kalau ditanya soal tari daerah, ya mana kita tau? Tau pun paling tari Jaipong karana sering muncul di TV, atau tari Kecak karena pasti muncul ketika ada iklan yang bernuansa Bali. Akan tetapi sejak Malaysia mentah-mentah mengklaim bahwa tari Pendet adalah tari yang berasal dari Malaysia, sontak banyak orang bahkan anak muda dengan instan ingat kalau ada tari dari Bali yang namanya tari Pendet. Ujung-unjungnya Malaysia dijuhat lagi, mulai dari perbincangan biasa sampai di social network juga seperti Facebook, twitter, dan sejenisnya.

Enough.. dari dua contoh di atas bisa disimpulkan bahwa ada hal yang kita sepelekan bahkan kita anggap itu tidak penting, tapi ketika ada orang yang menjadikannya penting kita malah sontak sok-sok emosi, kemudian kita nggak mau terima dan malah menghujat orang itu. Padahal nih ya.. kalau kita mau duduk, diam, tenang, kemudian berpikir dengan santai, maka meski sedikit akan ada terbersit rasa berterima kasih kepada orang yang sudah menjadikan penting hal penting yang selama ini sudah kita sepelekan. Tapi kalau amarah yang mendadak kita tampilkan ya adanya yang keluar cuma hujatan, tanpa kita mau tau bahwa kalau bukan karenanya pasti kita lupa dengan keluarbiasaan yang kita biarkan bahkan disepelekan begitu saja. Contohnya batik itu tadi, kalau bukan Malaysia mencoba mengklaim bahwa batik dari Malaysia apa iya anak muda sekarang begitu antusias memakai batik di segala kesempatan? Kalau tidak ada klaim-klaim semacam itu apa iya desainer-desainer talented Indonesia bersedia memodifikasi batik dengan beragam kreativitas mereka? Apa iya kita mau menyisihkan sedikit ingatan kita untuk mengingat bahwa ada tari asal Bali yang namanya Pendet kalau Malaysia tidak mencoba mengklaimnya juga? Okey.. kita muda, kita punya semangat yang menggebu,dan sebut saja kita punya nasionalisme yang tinggi, tapi kalau harus dengan hujatan yang sampai-sampai tidak sedap di dengar untuk menghujat orang-orang yang telah menjadikan kita ingat tentang keluarbiasaan yang hampir kita lupakan, sepertinya kurang cocok untuk anak muda seperti kita yang natinya akan dititipi tanggung jawab memimpin bangsa ini. Memang benar cara Malaysia itu salah, tapi dengan hujatan-hujatan yang kita lontarkan secara membabi buta itu pun bukan tindakan yang benar, apalagi hanya ikut-ikutan menghujat tanpa tau dulu apa pokok masalahnya. Jadi ya tidak melulu kita harus langsung memvonis salah berat kepada orang yang berusaha mengklaim apa yang kita miliki, karena sebenarnya dari dia pun kita belajar, kita sadar, dan kita tau bahwa ada hal luar biasa dari kita yang sudah kita biarkan tak terurus dan hampir lupa bahwa itu pun ternyata punya kita.

TUHAN memberkati..!!

About bayyudwisusanto


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: