Mencintai Itu Belajar Untuk Memberi, Bukan Untuk Menuntut


Beberapa minggu yang lalu di situs berita online ada berita yang mengabarkan bahwa komedian Kiwil digugat cerai oleh istri kedua dengan alasan bahwa Kiwil tidak adil dalam memperlakukan kedua istrinya. Dari berita itu kemudian aku bertanya-tanya, awalnya dulu gimana sih kok si Kiwil bisa menikah lagi dengan statusnya yang masih mempunyai istri? Apa dia beranggapan bahwa dia mampu menghidupi kedua istrinya, apa dengan penghasilan yang berlimpah dari keartisannya maka dia mampu menjamin kesejahteraan kedua istri dan anak-anaknya?  Apa iya dengan harta berlimpah dia bisa menjamin kebahagiaan orang yang coba dia sejahterakan itu? Entah apa pun itu alasannya, tapi menurutku seorang akan bisa bahagia adalah ketika dia diberi sesuatu dengan tulus dan utuh kepadanya, terlebih wanita. Jadi kalau punya istri dua seperti itu maka pada suatu titik tertentu dia harus memberi bagian yang lebih besar kepada yang satu dan lebih kecil kepada yang satunya, atau pada keadaan tertentu dia akan meninggikan yang satu dan akan menganggap rendah yang satunya.

Kemudian aku berpikir, mungkin kali ya orang yang sudah mampu menurut ukurannya sendiri kemudian menyatakan kepada istrinya bahwa dia hendak menikah lagi. Selain dengan dasar itu tadi mungkin ditambah dengan hak keegoisannya bahwa jika sang istri mencintai dia dengan sungguh maka istri itu harus memenuhi permintaan itu sebagai wujud cintanya. Itu sih hanya kemungkinan menurutku, tapi kalau memang ternyata benar seperti itu maka, Wow.., dia menggunakan arti cinta untuk memenuhi keinginannya dan menuntut suatu hal yang dianggapnya itu sebuah hak. Menurutku kalau mau jujur maka tidak mungkin ada wanita yang tidak cemburu ketika mendengar pasangan yang sungguh dicintainya membagi cintanya dengan wanita lain, apa lagi kalau-kalau dia harus melihatnya secara lagsung.  Kemudian ada lagi “Klub Istri Patuh” yang mengijinkan para suaminya untuk memperistri wanita lain padahal mereka masih bersatus suami-istri. Berarti hebat sekali perasaannya, mereka memang tidak ditindas secara fisik tapi pasti tertindas secara batin, kalau mereka menyatakan bahwa mereka benar-benar rela dan tidak merasa tertindas batinnya maka dewa banget itu ibu-ibu, ya kan?

Ketika kita menyadari bahwa oleh cinta kita akan belajar untuk memberi, maka kita tidak akan tega untuk melukai orang yang kita tuju untuk menerima cinta kita. Karena kita mencintai dia maka dengan senang hati kita akan memberikan apa yang akan membahagiakan dia. Pak Prasetya M. Brata dalam status Facebooknya pernah mengatakan : “Cinta itu pengorbanan” — Kalau emang kamu benar2 CINTA, maka apa yang kamu lakukan dan berikan untuk yang kamu cintai itu tidak akan kamu namakan sebagai ‘pengorbanan’ — Setelah ditelaah pelan-pelan ternyata memang benar, kalau memang benar-benar kita cinta sama dia maka apa yang kita lakukan untuk dia itu bukanlah sebuah pengorbanan, karena menurutku sebuah pengorbanan pasti akan mengharapkan suatu balasan bahkan bisa-bisa jadi tuntutan. Beda dengan dia tulus melakukannya karena benar dia cinta, dia memberi apa yang dia bisa untuk orang yang dicintainya. Buatku, bisa melakukan apa yang bisa kulakukan untuk orang yang kucinta itu adalah sebuah kepuasan tersendiri. Meski tidak selalu bisa tapi setidaknya aku mau berusaha, meski sudah berusaha tapi belum bisa juga, lain kali akan kucoba untuk lebih bisa lagi, karena bukan soal bisa atau tidak mau bisa, mungkin semua hanya masalah waktu. Kalau ada yang bilang : “Gila Loh…!! Dengan pemikiran yang demikian apa lo yakin dia nggak cuman manfaatin lo doang?” Kalau ketika kita memberinya dengan dasar pikiran mungkin kita akan beranggapan demikian, beranggapan bahwa jangan-jangan ini, jangan-jangan itu, jangan-jangan cuma begini, atau jangan-jangan cuma mau ininya aja, akhirnya kita juga punya rencana : “Ah, gue kan udah kasih ini segala macem, masa’ gue nggak dapet apa-apa, gue harus minta sama dia kapan-kapan kalau begitu”. Nah.. ujung-ujungnya kita punya rencana untuk menuntut toh? Bisa jadi, dengan alasan cinta kita menuntut balik apa yang kita mau kepada dia. Beda dengan ketika kita memberinya berdasarkan hati, kita akan memberinya dengan senang hati, kita akan melakukannya untuk dia dengan segala kerelaan kita, hal itu dilakukan karena benar kita mencintainya. Tugas utama yang harus kita lakukan karena kita mencintainya adalah melakukan wujud cinta kita itu untuk membahagiakannya, kalau pun ternyata dia hanya memanfaatkannya itu sudah bukan urusan kita, tetapi itu sudah mejadi urusannya yang akan dia selesaikan di waktu dan tempat dimana dia harus mempertanggung jawabkannya.

TUHAN memberkati..!!

About bayyudwisusanto


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: