Letakkan Puas dan Belum Puas Pada Tempatnya


Kita semua tau dong ajang pencari bakat? Seperti Indonesian Idol, Idola Cilik, Indonesia Mencari Bakat, dan masih banyak lagi. Nah.. pernah tidak perhatikan si juri kasih komentar kepada setiap kontestan? Kadang juri kasih pujian, kasih kritik, kasih masukan, kadang malah ada yang bilang kalau si kontestan belum pantas jadi kontestan karena penampilannya sangat mengecewakan pada hari itu. Sekarang coba kita ingat masukan si juri buat kontestan yang bilang “Kamu jangan cepat puas”. Kalimat itu punya makna agar si kontestan terus belajar agar kemampuannya lebih hebat lagi. Karena kalau dia sudah puas dengan kemampuannya pada saat itu maka kemampuannya akan hanya segitu saja, bahkan dia bisa beranggapan bahwa dirinya sudah paling oke karena pada hari itu juri memujinya. Hal itulah yang sangat juri takutkan, karena bisa-bisa kontestan bukannya belajar tapi sok oke hanya karena pujian pada hari itu aja. Hal itu berarti punya makna jangan menempatkan puas pada kemampuannya saat itu, tetapi harus masih terus dikembangkan karena potensi yang dimilki masih bisa digali.

Ada kalanya puas itu harus kita tempatnya pada kesadaran diri kita sendiri, karena jika tidak puas-puas maka hal itu akan membuat kita tamak bahkan berpotensi merugikan orang lain. Misalnya, kita beli baju yang harganya lima puluh ribu, tapi besoknya ada temen yang beli baju juga tapi harganya tujuh puluh ribu. Jelas dong bajunya lebih keren, tapi kalau kita mengikuti nafsu kita maka yang ada pasti kita menggerutu “Gila… dia bisa beli baju yang lebih keren dari gue, lebih mahal lagi..!! Punya gue cuman kaya gini, harganya mahalan punya dia lagi.” Nah.. disinilah puas harus diletakkan pada kesadaran diri kita. Kalau saja kita sudah puas dengan apa yang kita beli, maka pasti kita sudah bersyukur dan tidak ada yang namanya menggerutu, karena kita sudah puas dengan apa yang sudah mampu kita beli. Kalau kita menggerutu dengan kemampuan orang lain yang bisa beli barang lebih mahal dari kita maka bisa-bisa yang ada malah iri hati. Kalau berpotensi memacu kita untuk lebih berusaha sih tidak masalah, tapi kalau cuma mendatangkan keirian kan pasti membuat kita berpikir aneh-aneh. Karena jika berawal dari iri pasti bisa jadi akan ada omongan “Ah, dia bisa beli barang mahal tuh pasti karena dia dapat uang sampingan yang didapat dengan cara mencurigakan.” Atau bahkan malah punya niatan jahat, seperti diam-diam merusak barang itu, atau malah mencurinya, atau dengan hal-hal merugikan lainnya.

Jadi, kalau kita disarankan agar jangan puas dengan kemampuan yang ada itu berarti kita dituntut untuk lebih belajar lagi supaya hasilnya lebih dari apa yang sekarang ada. Tetapi jika kita menempatkan tidak puas itu di tempat yang sebenarnya harus kita syukuri karena kita sudah bisa punya ini, sudah bisa beli itu, atau bahkan sudah mampu membuat ini, maka hasilnya akan menjadikan kita seorang yang tamak dan selalu merasa kekurangan. Kalau kita tidak mampu puas dengan apa yang ada pada kita saat itu maka yang ada kita akan selalu merasa kurang dan kurang, yang ada ujung-ujungnya iri sama yang orang lain punya, padahal memang sudah jatahnya punya kita saat itu ya segitu, bukan lebih. Nah.. kalau begitu sekarang paling tidak kita bisa simpulkan bahwa orang yang selalu puas maka dia pun akan selalu merasa kecukupan, tetapi jika orang itu susah untuk puas maka orang itu akan selalu merasa kurang dan kurang. Kalau kurangnya dalam hal pengetahuan atau pengembangan diri ya tidak jadi masalah, tetapi kalau kurangnya dalam hal-hal yang bersifat kedagingan atau nafsu konsumtif dan teman-temannya pastilah akan banyak yang dirugikan. Maka itu marilah kita mendewasakan pilihan agar puas dan belum puas itu terletak pada tempat yang seharusnya dia diletakkan.

 TUHAN memberkati..!!

About bayyudwisusanto


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: