Dalam Kadar Tertentu Pura-Pura Tidak Tahu adalah Sebuah Kebodohan, tetapi Terkadang justru Dibutuhkan


Bebarapa waktu yang lalu aku naik Bus Travel yang pada waktu itu mau menurunkan penumpang di daerah Cikarang – Jawa Barat, dan karena itu Bus Travel mau tidak mau ya harus mengantar si penumpang sampai depan rumah. Nah.. ketika mau masuk gang komplek si penumpang itu, ternyata harus pelan-pelan karena selain gangnya sempit di ujung gang juga ada pangkalan ojek. Pada saat itu di pangkalan ojek itu ada dua motor dan juga dua tukang ojek, motor yang satu diparkir agak dalam, tetapi motor yang satu terparkir disisi paling luar pangkalan ojek bahkan hampir ke bahu jalan. Si sopir benar-benar harus akurat dalam memprediksi kemungkinan dan jarak yang harus dia ambil supaya Bus bisa masuk ke dalam gang tanpa harus menyenggol motor tukang ojek yang entah sengaja atau tidak terparkir disisi paling luar itu tadi. Ketika sopir sedang fokus-fokusnya ngepasin jarak, si bapak tukang ojek yang motornya diparkir di dalam bilang kepada temannya : “Hey, motormu itu kenapa tidak kau pindah agak ke dalam, supaya motormu tidak tersenggol sama bus itu?” Kemudian dengan nada agak tengil si tukang ojek satunya menjawab : “Sudahlah, biarkan aja, nanti kalau tersenggol kan ada urusannya ini..!!” Pembicaraan bapak-bapak itu tadi tidak terdengar oleh pak sopir yang sedang fokus dengan kemudinya tetapi aku yang duduk di bagian belakang sangat jelas mendengarkannya.

Setelah bus berhasil masuk ke dalam gang dan berhasil melewati pangkalan ojek tadi kemudian aku terdiam dan berpikir, “Bodoh  nggak sih yang dipikirkan tukang ojek yang motornya diparkir di sisi paling luar pangkalan ojek itu tadi?” Sudah tau ada Bus mau masuk gang yang sedang susah payah mau masuk, dan temannya sudah menegur apakah motornya tidak dipinggirkan saja supaya tidak tersenggol oleh Bus, si bapak bukannya meminggirkan motornya tapi malah bilang biarkan saja karena ada urusannya kalau-kalau motornya tersenggol. Kalau saja waktu itu benar-benar tersenggol dan benar-benar kemudian ada urusan dengan tersenggolnya motor itu apakah bukan malah ribut? Padahal kalau memang niatannya baik maka harusnya si bapak itu tadi dengan senang hati mau memindahkan motornya agar orang lain boleh berkesempatan untuk memakai jalan menuju dalam gang dengan agak leluasa. Kalau waktu itu benar-benar nyenggol maka si sopir karena dia fokus dengan kemudinya berarti dia benar-benar tidak tahu kalau motor itu benar-benar akan tersenggol, tetapi si bapak tukang ojek itu dalam hal ini berarti dia masuk dalam kategori pura-pura tidak tahu agar dia mendapatkan ganti rugi. Dia mendapatkan ganti rugi yang sedikit banyak karena ulahnya sendiri, kenapa dia tidak mau meminggirkan motornya kalau kemungkinan besar motor itu pasti tersenggol? Padahal kalau sedikit saja dia mau pengertian, maka tidak akan ada yang dirugikan. Hal semacam itu sama aja ketika kita melihat orang buta yang sedang berjalan sendirian dan dalam beberapa langkah lagi jika dia tidak segera berhenti maka dia akan masuk selokan, kita melihatnya tetapi kita diam saja, diamnya kita itu bukankah pantas kalau dibilang sebuah kebodohan? Sudah tau ada orang buta yang sudah dalam kondisi terancam mau tercebur tetapi kita yang bisa melihat justru diam.

Pura-pura tidak tahu itu bukankah lebih baik kita gunakan ketika keadaannya seperti ini, kita ada di tengah-tengah dua orang yang sedang berseteru, mereka mau saling bercakap ketika di hadapan umum, tetapi selalu saling mencela ketika keduanya terpisah dan berada dalam kelompok mereka masing-masing. Ketika kita main ketempat si A kemudian tanpa bukti kongrit si A bilang kepada kita bahwa si B itu jahat, suka berbohong, suka ngomongin orang, suka ini itu, kelakuannya begini begitu. Kemudian ketika kita main ke tempat si B dia pun tanpa bukti kongrit bilang bahwa si A ini jelek sifatnya, tidak bertanggung jawab, suka ini suka itu, dan bla dan bla, pokoknya hampir sama dengan apa yang si A tadi tuduhkan. Dalam kondisi seperti ini ada 2 hal yang bisa kita ciptakan, apakah kita mau membuat mereka perang, ataukah kita mencoba untuk meredam amarah mereka. Kalau kita menceritakan tanpa diedit sedikitpun apa yang diucapkan si A dan si B itu tadi maka dapat dipastikan perang akan terjadi, tetapi kalau-kalau kita mau mengambil keputusan untuk pura-pura tidak tahu tentang apa yang mereka saling ucapkan maka kemungkinan perang terjadi itu sangat kecil. Sudah tau kondisinya sedang tidak kondusif maka jangan sampai karena kita mereka justru semakin bersitegang bahkan jadi peperangan. Bukankah seharusnya kita lebih baik tidak menceritakan tetapi justru berusaha meyakinkan mereka bahwa semua itu kan tidak ada bukti kongkritnya, jadi bukankah lebih baik di selidiki terlabih dahulu sebelum mengeluarkan statement? Jadi anggap saja kita tidak pernah tahu apa yang mereka saling ucapkan, biarkan itu menjadi rahasia kita sambil kita mencoba membantu mereka untuk memperbaiki hubungannya.

Yang seperti itulah kenapa pura-pura tidak tahu itu dalam kadar tertantu bisa menjadi sebuah kebodohan tetapi terkadang hal seperti itu yang justru dibutuhkan. Dengan itu maka yang dibilang oleh orang bahwa cerdiklah seperti ular dan tuluslah seperti merpati itu benar, yang mau ditekankan disini adalah ular yang sifatnya bisa dikatakan jahat tetapi kecerdikannya boleh kita tiru supaya oleh kita bukan peperangan yang terjadi tetapi karena kecerdikan kita mengatur apa yang harus kita perbuat dan apa yang harus kita rahasiakan maka keadaannya menjadi kondusif dan kita berpeluang menjadi pendamai bagi mereka.

TUHAN memberkati.

About bayyudwisusanto


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: