Semangat Lebaran di Kampungku


Aku lahir dari keluarga Kristen, tapi tumbuh dan berkembang tidak hanya di lingkungan Kristiani saja, karena lingkungan di desaku 50% Kristen dan 50% Muslim. Jadi pengajian itu apa, buka bersama saat bulan puasa itu apa, sudah tidak asing lagi di telingaku, karena budeku dan embahku Muslim semua, ketika mereka mengadakan pengajian pun aku ikut membantu menyiapkan konsumsinya setelah pengajian selesai dan ikut pula makan konsumsinya🙂. Tidak sebatas itu saja, ketika main ke tempat tetangga pun demikian, atau ketika ada tetangga yang mengadakan pengajian dan membutuhkan bantuan untuk mencarikan tikar atau sekedar menyiapkan makanan setelah acara ya mari.., tidak ada itung-itung eh itukan acara orang Muslim, eh mereka kan beda kepercayaan, hal seperti itu benar-benar tidak ada di lingkungan tempatku tinggal.

Cerita di atas itu kalau masa puasa tiba, paling enak tuh kalau tempat bude kebagian giliran mengadakan buka bersama, undangan banyak so pasti makanan berlimpah yakan, aassiiikkk.. !! Nah.. lebih enak lagi kalau lebaran, kebetulan aku tinggal sama embahku dan kalau namanya orang yang dituakan itu pasti dikunjungi saudara-saudara, dari saudara yang sering kujumpai sampai saudara yang baru hari itu kujumpai dan terkaget-kaget karena ternyata ada juga saudara yang semacam itu? Maksudnya si itu juga saudara ku gitu, padahal selama ini dia itu teman maen di SMP dan kita nggak tau kalau kita ternyata saudara. Saudara yang dari Jakarta banyak yang mudik, oleh-oleh pasti juga banyak. Kalau setelah Sholat Idul Fitri kebanyak saudara yang muslim langsung keliling ke rumah tetangga atau saudara untuk silaturahmi saling bermaaf-maafan, nah satu hari setelah itu giliran semua orang kampung bergantian berkunjung kerumah keluarga, saudara, dan teman, tidak hanya yang Muslim karena yang Nasrani pun ikut melakukannya, hal itu dilakukan untuk menjaga silaturahmi dan momen untuk saling bermaaf-maafan. Itulah hebatnya kampungku, entah mengusung semangat kejawaan yang mengganggap hari itu lebarannya semua orang jawa atau menyadari bahwa Pancasila itu memang ada, yang jelas setiap momen itu tiba semua orang akan memanfaatkannya untuk saling bersilahturahmi dan bermaaf-maafan. Dan anak yang masih kecil pun mau Muslim atau Kristiani tetap dengan tradisinya yaitu salam tempel, meski aku sudah SMP pun masih dikasih sama embahku dan budeku, karena kalau tidak dikasih aku pasti minta😀.

Lulus SMA aku kemudian ke Jakarta, dengan berat hati harus meninggalkan hiruk riuh kebersamaan warga kampung yang selalu hangat itu. Dan di Jakarta banyak hal  baru yang kutemui, banyak pelajaran-pelajaran yang tidak kudapat disekolah, banyak kejadian-kejadian yang memaksaku harus merubah cara berpikirku. Salah satu pelajaran yang luar biasa adalah ketika harus mengetahui bahwa orang Nasrani di Jakarta itu justru susah melaksanakan ibadah apalagi mempunyai gedung gereja, Jakarta bagian pinggiran khususnya. Untuk melaksanakan Ibadah harus berhadapan dulu dengan orang-orang yang entah apa motivasi mereka. Beda banget dengan kehidupan di kampungku, kalau dikampung itu orang dengan senang hati mempersilahkan orang lain untuk melaksanakan ibadahnya, sampai-sampai Gereja dengan Masjid hanya dipisahkan oleh Gedung Taman Kanak-kanak, dan kehidupan kami di desa jauh dari kata berselisih antar pemeluk agama lain. Kalau di kota apalagi kota yang digadang-gadang banyak orang intelektual berpengetahuan luarbiasa yang pintarnya di atas rata-rata yang selalu menganggap orang kampung itu udik, nggak ada pintar-pintarnya, dan nggak cocok dengan gaya orang kota, justru rasa toleransinya bernilai NOL BESAR.

Negara yang sedang membutuhkan banyak dukungan dan doa dari warganya ini justru sebagian warganya mempermasalahkan ibadah orang lain, padahal dalam ibadah itu tak ketinggalan juga mendoakan bangsa ini, kehidupan di dalamnya, dan kesatuan rakyatnya, tapi ya malah jadi masalah, entah karena itu mengancam mereka atau ada maksud lain. Meski itu hanya dilakukan oleh sebagian orang, tapi hanya dengan itu akhirnya banyak orang yang menyimpulkan bahwa Pancasila yang dirancang, ditetapkan, dan dikumandangkan oleh pejuang kemerdekaan, belum sepenuhnya ada dalam benak rakyatnya. Pemikiran orang kota yang selalu dianggap lebih dari orang kampung justru perilakunya memprihatinkan. Dan akhirnya benar bahwa di Jakarta ini bukan emas dan dolar yang mahal tetapi TOLERANSI. Pelajaran IPA yang selama ini dianggap lebih tinggi stratanya dari pada IPS menemukan titik karmanya, benar-benar pelajaran ilmu pengetahuan sosial yang dianggap  lebih rendah justru memposisikan perilaku orang di tempat yang tidak mau mempersilahkan orang lain untuk bebas melakukan perintah agamanya masing-masing. Terkadang terpikir olehku bagaimana rasanya kalau semangat Lebaran kampungku terimplementasi di kota ini, orang-orangnya pintar dan toleransinya besar pasti akan menciptakan harmoni yang tidak akan bisa terbeli. Ya.. semoga..

God be with you..

About bayyudwisusanto


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: