Seberapakah Kadar Merdeka di Bangsa Ini?


Salah satu Lagu Nasional Indonesia yang hampir wajib dinyanyikan di setiap panggung gembira 17 Agustusan adalah Lagu yang berjudul “Hari Merdeka” ciptaan H. Mutahar. Aku kira semua orang Indonesia tau lagu itu, kecuali dia masih batita. Dalam lagu itu diceritakan bahwa 17 Agustus tahun 45 adalah hari lahirnya bangsa Indonesia. Bangsa yang lahir setelah dicabik-cabik oleh para penjajah. Bangsa yang merasakan kelegaan setelah bertahun tahun melawan penjajahan. Banyak darah, keringat, dan juga air mata, tertetes demi kelayakan hidup anak cucu yang nantinya akan membuat Bangsa Indonesia menjadi Bangsa yang Besar.

Tapiiiiiii, look at that..!!!!  Beberapa bapak-bapak dan bahkan opa-opa veteran, yang dulu adalah pejuang, prajurit, bahkan mungkin ada yang menjadi penggagas kemerdekaan Bangsa ini, kehidupan mereka jauh dari kata pantas. Suatu ketika aku pernah didatangi opa-opa dengan seragam lengkap khas pejuang jaman dulu dengan umur kira-kira 70 tahunan lebih, beliau menawariku kalender dengan gambar prajurit-prajurit Indonesia jaman dulu seharga 5.000 rupiah. Kemudian aku membelinya, dan kemudian berpikir, 5.000 dijualnya trus belanjanya berapa ya? Si opa dapat untungnya berapa ya? Si opa menjualnya dengan jalan kaki, pasti berharap laku banyak dan bisa membeli makan atau menghidupi keluarganya. Gilaaaaa.. ini PARADOKS men, orang yang dulu mempertaruhkan nyawanya sewaktu perang bahkan yang selamat sewaktu perang sampai dibilang “Nyowo Saringan” , sekarang harus keliling dari rumah ke rumah untuk menjajakan kalender yang harus berjalan kaki demi mempertahankan hidup dan juga harus mempertaruhkan masa tuanya, sementara pemimpin-pemimpin bangsa ini yang disebut Dewan Terhormat malah asik mencari cekeran-cekeran dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara demi memperkaya keluarga dan kelompoknya, saddiisss!!!.

Okey, dari cerita di atas bisa disimpulkan, Lagu Nasional yang salah satu liriknya berkata “sekali merdeka tetap merdeka” dan cerita si opa veteran yang menjajakan kalender demi kelangsungan hidupnya, ada kaitannya. Kaitannya apa? Ya, kalau sekali merdeka tetap merdeka berarti stagnasi, cuma segitu aja maunya, nggak mau yang lain. Pantas saja kenapa si opa demi kelangsungan hidupnya harus jalan kaki menjajakan kalender keliling komplek dari rumah ke rumah. Karena bangsa ini cuma mau merdeka dari penjajah, tapi tidak mau memerdekakan kesejahterakan si perebut kemerdekaan. Si opa yang menawariku kalender itu contohnya.

Tidak itu saja, kurasa Lagu Nasional yang hampir wajib dinyanyikan setiap 17 agustusan itu tadi benar-benar hanya menyerukan keinginannya merdeka dari penjajah, bukan merdeka dari segi lainnya. Contohnya, masih banyak tindakan anarkis oleh kelompok tertentu, oleh oknum-oknum tertentu, atau golongan-golongan tertentu. Merdeka itu kan punya arti bebas ya kan, tapi kenapa ada rumah makan di Makasar yang di bulan Ramadhan jualan siang-siang demi membayar THR karyawannya malah dihancurkan rumah makannya, sementara di sini Pak Mahfud demi uang sekolah anaknya yang di kampung bisa tetap jualan gado-gado di siang hari dan di bulan Ramadhan juga? Kenapa rumah-rumah ibadah yang sewaktu ibadah turut mendoakan keselamatan bangsa ini, kesejahteraan bangsa ini, dan kelangsungan hidup rakyat bangsa ini, malah disegel, dihancurkan, dan bahkan dibakar, sementara kios billiard, panti pijat dan diskotik buka hampir 24 jam tidak ada masalah? Ini namanya paradoks bukan merdeka dalam arti sesungguhnya. Bagaimana Indonesia mau tumbuh jadi Bangsa besar jika sehat saja tidak? Bagaimana mau sehat jika dinamakan Bangsa yang merdeka tapi isi kemerdekaannya malah seperti itu? Pantas saja Indonesia 2011 tidak jauh beda dengan Indonesia 1945, karena yang diinginkan hanya merdeka dari penjajah, bukan merdeka di segala aspek. Boleh kita lihat pendukung Timnas Indonesia sewaktu melawan Turkmenistan di Stadion Gelora Bung Karno, semua orang bersatu, tidak pandang suku, ras, agama, gender, dan usia, semua berteriak “Indonesia..Indonesia..“, hasilnya Timnas Indonesia dengan dukungan luar biasa itu menang. Itu sebatas kesatuan di Stadion Gelora Bung Karno, bagaimana kalau rakyat bangsa ini dengan segala keberagamannya mau untuk bersatu di segala aspek?

Let’s Pray For Indonesia..!!!

About bayyudwisusanto


2 responses to “Seberapakah Kadar Merdeka di Bangsa Ini?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: