Mengucapkan Salam


Aku resmi megikuti Upacara Bendera hari Senin ketika aku mulai masuk Sekolah Dasar. Matahari yang menyengat dan udara yang panas sudah menjadi barang pasti yang harus dirasakan ketika upacara, “kecuali mendung”. Sebelum upacara, mulai pasti petugas sudah menyiapkan barisan anggotanya masing-masing. Upacara dimulai dan semua peserta pasti diam, karena ada guru pengawas yang berada di belakang barisan. Sampai di tengah jalannya upacara, peserta upacara dipersilahkan istirahat ditempat karena Pembina Upacara mau menyampaikan pidatonya. Sebelum mulai berpidato, maka pembina upacara yang waktu itu langsung Kepala Sekolah dan beliau seorang Nasrani, mengucapkan Salam Sejahtera dan tak lupa juga mengucapkan salam Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh. Setelah mengucapkan salam itu banyak peserta yang menjawabnya Waalaikumsalam Warahmatullahi Wabarakatuh, tapi ada beberapa temanku yang juga tidak menjawab salam itu. Teman disampingku misalnya, dia diam dan tidak menjawab salam itu, kemudian kutanya “Lah, kenapa kamu tidak menjawab salam itu kawan? teman yang lain kan menjawab juga tuh!!” Kemudian dengan polos dia menjawab, “Ah, pak kepala sekolah kan Nasrani, jadi aku tidak perlu menjawab salam itu, karena yang mengucapkannya orang Nasrani”. Karena aku juga Nasrani maka setelah mendengar jawaban itu aku manggut-manggut, tapi manggut-manggut sambil keheranan, “Kenapa bisa begitu ya? ada sebuah batasan kah untuk salam itu? bukankah itu cuma sebuah bahasa?”

Lama aku tidak kunjung mendapatkan jawaban dari keherananku itu tadi. Di SMP pun masih ada beberapa temanku yang seperti itu, entah itu bawaan SD atau memang diajarkan begitu. Aku tidak tau pasti, dan tidak mau tanya pula, bahkan akhirnya ada beberapa temanku yang Nasrani jadi ikut-ikutan membuat salam itu agak dihindari oleh mereka. Naik ke SMA seiring berkembangnya pola pikir, aku memutuskan untuk menjawab keheranan itu. Dan inilah buah dari hasil pikirku sendiri : “Assalamu’alaikum” kan sebuah ucapan salam, dan itukan bahasa Arab, jadi bukankah semua orang sah mengucapkan salam itu? So.., kenapa kawanku tadi tidak mau menjawabnya karena yang menyampaikan orang Nasrani? Dan kawanku yang Nasrani juga, kenapa akhirnya dia agak menghindari ucapan itu? Hey men, itu sebuah ucapan salam yang disampaikan dengan bahasa Arab, bukan bahasa suatu Agama tertentu. Jadi kenapa harus dipermasalahkan coba? Aku pernah nonton film judulnya “Kingdom of Heaven”, film itu mengisahkan tentang Perang Salib yang terjadi sekitar abad 12. Dalam film itu dikisahkan kedua kubu yang sedang berseteru sebelum memulai perang besar mereka membuat sebuah kesepakatan terlebih dahulu, setelah Raja Yerusalem membuat kesepakatan dengan Pemimpin besar Islam yang saat itu namanya Saladin, kemudian Raja Yerusalem pamit dan sebelum meninggalkan Saladin dia mengucapkan salam “Assalamu’alaikum“, dan Saladin pun menjawab “Waalaikumsalam“. Mereka berpisah dan perang tidak terjadi karena kesepakatan tersebut. Okey.. setelah aku googling juga, ternyata “Assalamu’alaikum” juga sering digunakan oleh orang Nasrani yang berdomisili di Timur Tengah, nah.. kalau orang Israel atau Yahudi bilangnya “Shalom Aleichem” yang artinya tidak jauh beda, hanya yang satu bahasa Arab dan satunya bahasa Ibrani, that’s it. Kalau begitu jadi jelas sudah,”Assalamu’alaikum” itu ucapana dengan memakai bahasa Arab bukan bahasa suatu Agama tertentu, yang boleh diucapkan oleh semua orang, dan kalau tidak salah yang mendengarnya pun wajib untuk menjawabnya.

“Nah… kalau sudah tau seperti itu siapa yang keliru coba? ” gumamku. Tunggu..tunggu.. nggak ada yang harus dibilang keliru, cuma belum tau aja mungkin. Karena uraian di atas itu juga cuma menurutku, bukan menurut pemuka suatu Agama tertentu. Jadi belum tentu salah, dan mungkin saja benar, hehhe..!! Uraian di atas hanya buah dari hasil pemikiranku, apabila salah ya mungkin karena aku hanya mengira-ngira. Dan jika uraian itu benar, berarti sudah saatnya kita yang tadi belum mengerti, merubah pola berpikir kita. Salam itu diucapkan dalam bahasa Arab atau bahasa Ibrani, artinya bukan milik suatu Agama tertentu kan, jadi buat apa kita mempermasalahkannya? Mari bersehati, karena hari-hari kita semakin jahat, perang antar agama itu adanya cuma di abad 12 dulu, bukan di abad kita yang sekarang ini. Jadi jika masih ada saudara kita yang saling menjatuhkan, saling menyalahkan, saling menghakimi, menganggap agamanya paling benar, itu berarti mereka yang ketinggalan jaman. Karena sekarang jamannya Generasi Bersinergi, sekarang jamannya saling menopang, bukan saling menendang. Tembok berdiri kokoh karena di dalamnya ada Semen, ada Batu, dan ada Pasir. Mozaik-mozaik itu disatukan dan jadilah Tembok yang kokoh. Jadi, sekarang jamannya perbedaan itu disatukan untuk menciptakan sesuatu yang baru, yang kokoh, dan yang harganya tak terbeli, karena kita sudah ada di jaman yang di dalamnya perbedaan mampu bersinergi.

GOD be with you..!!

About bayyudwisusanto


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: