Hormatilah yang Sedang Berpuasa, Begitupun yang Tidak Berpuasa


Suatu siang aku mendengar obrolan anak kecil yang demikian “eh, kamu kok enggak puasa? ini kan bulan puasa, entar makanan yang dimakan itu jadi belatung lho di perut, hiiiiii”. Spontan aku bergumam, “Aiissshhh… anak ini habis didokrtin sama siapa coba?”. Tapi lama-lama aku mikir juga, mungkin yang kasih tau seperti itu orang tua si anak, ya.. mungkin orang tuanya beranggapan dengan dikasih tau demikian anak-anak tidak akan berani melanggar larangan puasa. Iya lah.. namanya juga anak-anak, biarlah itu berlaku untuk anak-anak, kita yang sudah dewasa mari berpola yang lebih dari pada itu. Karena pasti anak-anak itu tidak mengetahui bahwa si anak yang makan itu tidak diwajibkan untuk berpuasa di bulan Ramadhan.

Nah… waktu kelas 2 SMA dulu, waktu itu jam terakhir dan kelas kita kosong tidak ada yang ngajar, waktu itu juga berbarengan dengan awal-awal puasa, aku dan teman sebangku ku pergi ke kebon sekolahan dan kita petik buah yang buahnya itu seperti blueberry, kemudia kita makan tanpa memperdulikan teman lain yang sedang puasa. Karena kantin pun tutup maka kita makan buah itu seperti orang nggak punya dosa. Pikir punya pikir, nggak bagus juga seperti yang kulakukan ini lama-lama, “bagaimana perasaan mereka yang sedang puasa ya.. kalau aku makan-makan seperti ini di depan mereka?” Akhirnya dirubah cara makannya, tetep makan tapi kita sembunyi. Semakin kesini semakin sadar bahwa perbuatan yang tadi itu salah, karena orang bijak bilang “Hormatilah orang lain, kalau-kalau kamu mau juga dihormati”. Nah, kalau kita mengabaikan rasa penghormatan, apa yang akan kita dapat sebagai feedback nya?

Kalau begitu, apa yang kulakukan tadi itu bener-bener salah. Kalau seperti itu ya orang nggak akan simpati terhadap apa yang diajarkan oleh kepercayaan yang ku anut. Karena pasti mereka beranggapan apa yang kulakukan tidak jauh beda dengan yang diajarkan. Kalau gitu aku yang salah besar, karena memaksa mereka beranggapan seperti itu. Padahal, kenyataan dalam ajaran nggak seperti itu. Tapi beberapa dari kita kadang masih beranggapan atau komentar “Ah, salah siapa dia puasa, kalau lapar ya kita makan saja, nanti kalau sakit apa iya mereka mau peduli sama kita? Jangankan peduli, mengolok-olok iya malahan..!!!” Wah..wah..wah.. yang begini ini nih yang perlu di tatar dulu rupanya. Aku pernah baca Surat Paulus kepada Jemaat di Roma “Siapakah kamu, sehingga kamu menghakimi hamba orang lain? Entahkah ia berdiri, entahkah ia jatuh, itu adalah urusan tuannya sendiri. Tetapi ia akan tetap berdiri, karena Tuhan berkuasa menjaga dia terus berdiri. Yang seorang menganggap hari yang satu lebih penting dari pada hari yang lain, tetapi yang lain menganggap semua hari sama saja. Hendaklah setiap orang benar-benar yakin dalam hatinya sendiri. Siapa yang berpegang pada suatu hari yang tertentu, ia melakukannya untuk Tuhan. Dan siapa makan, ia melakukannya untuk Tuhan, sebab ia mengucap syukur kepada Allah. Dan siapa tidak makan, ia melakukannya untuk Tuhan, dan ia juga mengucap syukur kepada Allah.”

Enough..!! Dalam Surat yang kubaca itu jelas, bagaimana kita harus menghormati saudara kita yang sedang menjalankan puasa, sebaliknya juga begitu, hormatilah yang tidak berpuasa. Supaya ada suatu harmoni yang menghasilkan kehidupan saling menopang satu sama lain tanpa ada yang menjadi batu sandungan bagi saudaranya yang hendak menjalankan perintah kepercayaannya, karena pasti kita semua sepakat bahwa segala sesuatu yang dilakukan untuk TUHAN itu pasti baik adanya.

GOD be with you..!!

About bayyudwisusanto


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: