Tidak Berpikir bahwa Pemikirannya selalu Benar


Terkadang kita beranggapan bahwa kalau kita punya komunitas atau geng atau temen yang banyak, kita mempunyai suatu kekuatan yang besar. Misalnya kita di sekolah atau dikampus atau dikehidupan bermasyarakat membentuk satu perkumpulan yang minimal ya.. 4 anggotanya lah, kita pasti udah merasa agak beda dengan yang lain. Apa lagi diantara 4 orang itu ada 2 aja yang gede badannya, yang kelihatannya jago berantem, yang radical thinking, yang hobinya teriak-teriak nggak pernah gentar meski ada guru atau dosen. Atau kalau cewek, ada yang centil, ada yang dandanannya sok emo, atau yang cerewetnya nggak ada juntrungannya malah, yang bikin cewek-cewek lain minder. Wedeeehh… so paling sedap jo.. torang empat di kampus atau sekolah. Padahal anggapan itu nggak sepenuhnya benar. NOL BESAR malahan.. karena ada yang menghindar tapi bukan karena minder atau takut, melainkan ogah melihat tingkah geng kita yang nggak nggenah arahnya.

Ada sedikit cerita, waktu itu aku kelas 2 SMA dan di suatu siang di saat jam istirahat ke dua ada anak kelas 3 beserta teman sekelasnya yang cowok semua mencariku. Temen-temen cewek kelasku bilang ke dia kalau aku ada di belakang kelas. Ketemulah aku akhirnya sama mereka di belakang kelas, tanpa pikir panjang mereka langsung mengerumuniku tanpa satu pun temanku yang menemaniku. Ternyata aku dituduh mengatai pacarnya si anak kelas 3 itu pindah sekolah karena dia hamil. Katanya “Eh, kalo cewek lo dikatain hamil apa lo terima?” belum sempet aku menjawab, JEDEERRR… dipukullah wajahku dan terbenturlah jendela kaca kepalaku bagian belakang, dan karena benturan itu yang bikin sakit. Aku nggak bisa apa-apa karena nggak ada yang bisa kulakukan selain bertahan. Bayangkan saja, satu melawan belasan laki-laki. Keributan berlangsung nggak lama, kira-kira sepuluh menit lah. Setelah bubar baru teman-temanku mendekat, menanyakan keadaanku. Ya nggak ada yang parah memang, cuma kepala bagian belakang yang terbentur jendela itu tadi aja yang sakit. Okey… aku terima hal itu karena memang aku dikeroyok. Dikiranya mungkin karena rumahku jauh dari sekolahan dan aku nggak pernah bergerombol, aku dianggap nggak punya temen. “Well..  kita maen keroyok-keroyokan sekarang” gumamku dalam hati sambil berjalan pulang. Aku nggak pulang langsung kerumah, tapi aku langsung ke tempat biasanya nongkrong sehabis sekolah. Aku ceritakan kejadian tadi, dan kita semua berangkat bermaksud mencari yang mengeroyokku, terlebih yang memukulku tadi. Ternyata kita telat datang, anak-anak itu tadi sudah pulang. Akhirnya kita kembali ke tempat tongkrongan. Ada satu anak yang ternyata pulangnya lewat tempat tongkrongan kita, akhirnya kita stoplah dia.  Ditanya sama temenku, “Eh, lo tadi ikut mukulin si bayu ya? Ngaku nggak lo? Kalo nggak kita pukulin lo disini rame-rame!!! Sambil bergetar dia jawab, “Enggak bang, gue nggak ikutan, gue cuma nonton aja”. Sebelum dilepas, sambil dotoyor kepalanya, temenku bilang, “Ya sudah, bilang sama temen-temen lo, nggak usah pada sok jagoan, kita obrak-abrik baru tau rasa kalian ntar!!!”. akhirnya pergilah dia. Owh iya, tempat nongkrongku itu letaknya nggak jauh dari sekolahan dan isinya orang-orang yang ugal-ugalan, mabok-mabokan, dan cukup dominan di daerah sekolahku dan sekitarnya. Jadi ya siapa yang nongkrong di situ pasti aman. Tapi aku nggak ikut mabok-mabokan sama mereka. Seperti kataku dalam postinganku sebelumnya, “Aku suka bergaul sama mereka, tapi aku nggak se-kelakuan dengan mereka.” Si anak kelas 3 yang memukulku tadi mungkin beranggapan bahwa dia sudah kuat karena membawa temen sekelasnya untuk mencari dan memukulku dengan dukungan yang banyak, tanpa mencari tau dulu informasi tentang keberadaanku jika diluar sekolah. Akhirnya ketakutanlah dia setelah keesokan harinya dan teman yang kita stop tadi cerita ke temen-temen sekelasnya yang mengeroyokku tadi, dimana aku ketika pulang sekolah dan nongkrong. Tapi akhirnya ya sudahlah, kubiarkan berlalu tanpa tindakan lebih lanjut. Biar saja mereka ketakutan dengan apa yang telah mereka lakukan tanpa pikir panjang itu tadi.

Yupss.. seperti itulah orang yang berpikiran apa yang dia pikir benar menurutnya tanpa menganalisa dulu apa yang akan dia perbuat. Tapi nggak cuma itu aja, ada juga kalanya kita mengkritik dengan dasar pemikiran kita sendiri, kritikan itu sok bilang “si dia ini harusnya begini, harusnya jangan gitu, harusnya ini dulu bukan itu, pemerintah ini lamban, pemerintah ini mikirnya nggak selesai-selesai.” Kritikan yang tujuan akhirnya mencela, mencemooh dan berujung menjatuhkan. Yah.. itu dia, kalau dasarnya pemikiran kita sendiri, ya apapun salah jadinya. Suatu malam setelah bosan Facebook’an dan berkicau di Twitter, iseng-iseng aku baca satu postingan di blognya Pandji Pragiwaksono, di dalamnya dia bilang kalau Pandji itu orang yang nggak mau nyalahin presiden Indonesia, karena nggak segampang yang kita pikirkan untuk memikirkan bagaimana seharusnya menyatukan orang-orang indonesia yang majemuk ini, memimpin Indonesia itu lebih sulit dari pada memimpin China, India, bahkan Amerika. “Karena saking banyak maunya, maka orang-orang Indonesia itu jadi susah diatur. Orang yang mau jadi presiden di Indonesia itu kalau nggak karena Ambisi, Kehormatan, ya karena Uang pasti.”  Dan menurutku memang benar kata Pandji itu. Tapi tetep aja ada kebanyakan orang yang mengkritik nggak ada habisnya, entah karena dia tidak puas, atau dia kalah dalam pemilihan presiden dulu. “Bukankah mulanya kritik itu harusnya membangun? Bukannya kritik itu bertujuan membantu berubahnya yang salah menjadi benar? Tapi kenapa kritikan kita malah bersifat menjatuhkan, melecehkan, atau mengolok-olok?” Jangan buat cemooh menjadi wacana yang berkedokkan kritik. Sebaiknya kita punya pemikiran seperti yang dikatakan budayawan asal Semarang “Prie GS”, “Kalau KRITIK mu bersifat menjatuhkan, sebaiknya tahanlah!!!”

Sudah saatnya pemikiran yang menyatakan bahwa pemikiran kita selalu benar menurut kita sendiri dirubah. Sudah saatnya kembalikan kritikan ke posisi yang berujuan membantu yang keliru menjadi benar. Terkadang kita kecewa dengan kepemimpinan si ini, kepemimpinan si itu, akhirnya kita mengatainya gagal, nggak punya pengalaman, nggak becus ngurus ini itu. Coba bayangkan kalau kita diposisinya, sama saja pastinya.. karena dulu kita mencemoohnya maka sewaktu kita gantian jadi pemimpin, gantian juga kita dicemooh olehnya, ujung-ujungnya bukan menjadi sesuatu yang kokoh tapi sesuatu yang rapuh karena pernyataan-pernyataan kita yang acak-kadul.

Kita pasti rindu Indonesia yang aman, Indonesia yang bebas berdaulat adil dan makmur, kita rindu di Indonesia harga bensin cuma 850 rupiah per-liter, kita rindu mie instan 1000 rupiah dapat tiga. Tapi bagaimana mungkin itu terjadi kalau di dalam indonesia sendiri terjadi saling penjatuhan meski hanya melalui ucapan-ucapan? Bagaimana mungkin terjadi jikalau sedari muda kita sudah pandai mencemooh dengan berkedokan kritik? Bung Karno bilang, “Berikan aku 1000 orang tua, niscaya akan kucabut semeru dari akarnya, berikan aku 1 pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia” Itu mengandung arti betapa dahsyatnya orang-orang muda. Orang-orang yang mempunyai masa berkembang yang lebih panjang. Tapi kalau sedari muda sudah terpengaruh untuk ikut-ikutan mencemooh, ya mau dibawa kemana negara kita ini? Indonesia ini sedang dalam masa berkembang,  masa yang dimana dibutuhkan asupan gizi, asupan vitamin, dan elemen-elemen penyehat didalamnya. Tapi mau berkembang bagaimana kalau sehat saja tidak? Mau sehat dari mana kalau didalamnya diisi dengan cemoohan, menyalahkan, menjatuhkan? Cemoohan yang menurut kita itu suara hati yang naik ke otak lalu keluar melalui teriakan mulut, meskipun suaranya semberrrr. Mengubah sudut pandang pemikiran kita yang awalnya berpikir bahwa pemikiran kita selalu benar, menjadi sudut pandang yang berpikir bahwa untuk menjadikan benar itu bukan dengan cemooh dan celaan, akan mengawali perubahan dalam diri kita, kemudian ke organisasi yang kita ikuti, lalu merubah negara kita, dan akhirnya dunia ini akan berubah menjadi lebih baik dengan awalan berubahnya terlebih dahulu sudut pandang cara kita berpikir. Mari bersama belajar untuk mengurangi rasa suka menghakimi karena itu sudah menjadi pekerjaan TUHAN, dan jangan lagi-lagi senang tuduh menuduh karena itu sudah menjadi kebiasaan si iblis.

TUHAN memberkati..!!!

About bayyudwisusanto


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: