Ibadah itu Bukan untuk Agama, tapi Ibadah itu untuk TUHAN


Sekitar 6 tahun yang lalu, ketika itu masaku masih masa-masa remaja yang hendak beralih ke pemuda. Waktu-waktu itu yang namanya ibadah buatku adalah hal yang masih mengkel kalo bahasa mangganya, artinya ya.. kadang masih mau ikut ibadah kadang juga malas seada-adanya. Malam minggu yang harusnya waktu ibadah untuk orang-orang muda malah kupergunakan untuk maen ke rumah temen, maen sama komunitas, kadang nonton tivi diam-diam di rumah. Sembari maen, aku juga sambil mikirin alasan apa yang akan kupakai supaya besok hari Minggunya aku nggak usah ibadah dengan alasan yang tepat. Hadowh.. betapa berdosanya diriku dulu.ย  Sampai pada suatu ketika dimana jika mau beralih dari remaja ke pemuda aku harus mengikuti suatu kegiatan, dimana kegiatan itu menuntut pesertanya harus rajin-rajin ikut ibadah. “Kalo gue nggak dateng ibadah, tamatlah gue kalo nggak lulus juga” pikirku sambil mendengarkan sang guru menerangkan materi, meski sambil terantuk-kantuk. Okey.. akhirnya ya aku mulai agak rajin ikut ibadah, tapi ya masih bolong-bolong. Pada satu kesempatan ketika aku nggak ikut ibadah, malam harinya temenku yang juga mengikuti kegiatan yang kuikuti itu tadi bilang kepadaku, “Bay, kamu kemana Sabtu malam dan hari ini? kok nggak datang ibadah?”. Jawabku sambil senyam-senyum, “Aduh, sorry ya.. aku nggak bisa ibadah tadi malam dan hari ini, biasalah kegiatan lama yang belum bisa ditinggalkan langsung gitu aja”. Dan dengan cepat dia merespon pernyataanku itu, “Okey bay, kalo itu alasanmu!! Tapi yang harus kamu ingat adalah, TUHAN sudah kasih waktu ke kamu selama 7 hari untuk sekolah, untuk maen, untuk ngumpul sama keluarga, tapi apa kamu nggak mau ngeluangin waktu ya.. maksimal 2 jam lah untuk datang dan beribadah itung-itung bersyukur karena kamu masih boleh diberi 7 hari kemarin untuk beraktivitas?” Dan wow.. kalimat-kalimat itu benar-benar langsung meresap ke otak dan pikiranku. Kemudian aku pulang kerumah, sebelum mata benar-benar terpejam aku coba merenung sebentar, mereview kata-kata temenku itu tadi. “Bah.. benar kali rupanya.., kalau mau dikalkulasi secara matematika benar-benar nggak tau diuntungnya aku ini, sudah dikasih waktu selama 7 hari untuk beraktivitas tapi cuma 2 jam untuk mengungkapkan rasa syukurku aku masih malas-malas.” Dan benar, setelah itu aku mulai mau rajin-rajin beribadah. Dengan filosofi dari temanku itu, semua dalil-dalilku yang dahulu akhirnya terbantahkan.

Setelah mau rajin beribadah aku mulai mau meninggalkan kebiasaan-kebiasaan yang buat sebagian orang itu kurang baik. Kebiasaan yang nongkrong-nongkrong kalau malam minggu. Kebiasaan ngumpul-ngumpul dengan tujuan agar diperhatikan banyak orang. Dan yang paling parah adalah kebiasaan ngumpul dengan para pemabok, meski aku bukan peminum tapi aku suka nongkrong sama mereka. Sewaktu SMA aku sempat coba-coba merokok, itu juga karena rekomandasi dari temanku. Setelah coba dan mencoba, “kok aku nggak bisa menemukan dimana enaknya merokok ya?” menurutku rasanya sama aja merokok atau nggak merokok. Kemudian berani coba-coba minuman keras, “huweeeek.. pait, nggak enak, nggak-nggak ah… gue nggak mau minum lagi” teriaku sambil mencari penawarnya. Akhirnya kebiasaan coba-cobaku hilang seiring aku mulai menjauhi kebiasaan-kebiasaan yang orang-orang itu lakukan. Dan mujurnya lagi, sampai sekarang aku nggak bisa menemukan dimana enaknya merokok, apalagi bermiras-miras ria.

Kebiasaan-kebiasaan buruk sudah menghilang, saatnya aku fokus ke hal yang lebih baik, dimulai dari gemar beribadah. Tapi lama-lama kok ada juga penghambatnya ya? kok ada yang bilang ibadahmu itu salah, ibadahmu itu nggak baik, ngapain kamu beribadah kesitu, dasar bodoh!! Ibadah aja ke tempatku pasti kamu akan mendapatkan lebih!! Wuih..wuih..wuih.. apa motivasi orang ini? “sudahlah, kalau kau mau beribadah ya beribadahlah menurut keyakinanmu, ngapain kau menghakimi ibadahnya orang lain? Apa kau mau, kalau caramu ibadah dihakimi?” teriak dalam batinku. Ibadah itu menurut imannya masing-masing, dan buatku iman itu percaya tanpa syarat, jadi mau dikatakan apa saja ya percuma, karena kita punya iman masing-masing. Ibadah itu bukan untuk agama, ibadah itu untuk TUHAN, dan setiap perbuatan yang untuk TUHAN itu baik adanya. Jadi ya.. silahkan beribadah dengan keyakinanmu dan aku beribadah dengan keyakinanku. Sama saja seperti pisang, dari kebun nama awalnya pisang tapi setelah sampai di meja makan sudah banyak berubah… ada yang dinamakan pisang molen, ada yang menamakanya pisang rebus, ada juga yang kasih nama pisang goreng. Sama-sama dari pisang tapi cara penyajiannya beda. Ya.. kira-kira seperti itulah, jadi nggak usah mempermasalahkan cara orang mau beribadah seperti apa, ujung-ujungnya malah jadi batu sandungan bagi saudara lain yang mau beribadah dengan caranya masing-masing, dan itu kesalahan besar. Seperti kata Aa Gym “Isi dalam teko akan bisa kita ketahui hanya dari apa yang keluar melalui mulut teko tersebut.” Artinya, ya kalau ada orang yang menghujat dengan kata-kata sampah melalui mulutnya, bukan nggak mungkin otaknya malah lahan tempat pembuangan sampahnya. Nah lhoย kalau begitu bagaimana dengan kondisi otak mereka yang mempermasalahkan ibadah orag lain, yang sampai ngata-ngatain?

Ya itulah tadi, sedikit celoteh sebagai selingan ringan. Ibadah itu bukan buat agama, tapi ibadah itu buat TUHAN, jadi kalau bisa ya.. lakukanlah dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu. Ya memang kadang masih ada beberapa kendala yang membuat kita nggak bisa beribadah, karena aku pun kadang juga begitu..๐Ÿ™‚ tapi bukan berarti kemudian kita mengada-adakan kendala itu supaya kita nggak usah beribadah. Buat kita yang masih muda memang kadang masih punya pemikiran “ah, malas ibadah, gitu-gitu aja, ntar aja deh kalo udah ganti suasana.” “Hati dan pikiran masih agak rancu nih, jadi nggak usah ibadah dulu kali ya..!!” padahal kemaren-kemaren udah bilang gitu kalo diajakin ibadah. Okey, kita masih muda dan memang punya alasan masing-masing untuk nggak ibadah dulu, tapi yang harus kita ketahui adalah mungkin efeknya bukan sekarang jadi kita masih sok bodo amat kalau-kalau di ajak ibadah. Kita lihat efeknya nanti ketika kita sudah berumah tangga dan punya anak. Kita pasti senang melihat anak-anak kita rajin benar beribadah, sampai akhirnya kita menyadari “Owh iya ya.. dulu saya masih malas-malasan untuk beribadah, karena kegiatan-kegiatan saya, tanpa saya pikirkan perasaan orang tua saya, perasaan orang tua yang betapa senangnya manakala melihat anak-anaknya rajin beribadah, perasaan yang sama dengan yang saya rasakan sekarang tatkala saya melihat anak-anak saya rajin beribadah.” Ibadah itu nggak ada ruginya, justru dengan ibadah kita bisa lebih dekat sama TUHAN. Kalau kita rajin ibadah kan kita bisa akrab sama TUHAN tuh.. jadi kalau kita berdoa minta sesuatu sama TUHAN, nggak usah TUHAN berpikir panjang dulu, nggak usah TUHAN nyari-nyari dulu siapa sebenarnya kita kok minta ini itu segala macam? Tapi TUHAN pasti bilang, “wah.. dia orang friend sendiri ini, sering mengungkapkan syukurnya dia nih.., jadi katorang so akrab.., minta apa tho dia sekarang? owh.. minta itu, well… permintaan akan segera dipenuhi!!” ๐Ÿ™‚

TUHAN memberkati..!!!

About bayyudwisusanto


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: