Bagaimana Cintamu Bersikap?


Siapa yang belom pacaran waktu SMP? wuish.. banyak pasti yang pernah.. hahahaseekk..!! Tapi mungkin tetap ada yang masih belom, ada yang belom berani mungkin, belom menemukan kecocokan mungkin, mau fokus sama pendidikan dulu mungkin, dan pasti masih ada yang belom boleh sama orang tuanya, bukan berarti orang tua kita jahat tapi mungkin karena mereka belom mau anaknya maen-maen sama pendidikannya. “Tapi itukan buat penyemangat mah.” kata si anak, “Ah itu alibimu aja nak.” jawab ibunya gak mau kalah. Seperti itulah kira-kira perdebatan si anak yang sedang galau, dengan ibunya yang belom memperbolehkan anaknya pacaran karena dia masih SMP, dan nggak menutup kemungkinan sampai SMA pun juga begitušŸ™‚

Aku, aku sedkit beruntung… orang tuaku gak menutup kesempatan kalau-kalau anaknya mau pacaran sewaktu SMP atau tidak, itu hak anak-anak (mungkin dalam benak orang tuaku begitu). Tapi hal itu nggak lantas menjerumuskanku atau memaksaku untuk ikut-ikutan menjadi si penebar cinta dimana-mana. Sewaktu SMP aku mulai tertarik dengan teman satu ruangku ketika kita di satu mata pelajaran tertentu. Awal-awalnya kurasa dia kurang ada feel, tapi akan kucoba sampai sejauh mana rasa itu membawaku. Tidak kusangka ternyata si cewek banyak juga yang suka, well.. banyak saingan rupanya, sampai pada satu ketika aku dipanggil dan diajak oleh salah satu cowok yang ternyata dia juga suka sama cewek yang tak suka itu, sampai di satu ruangan yang disitu masih ada banyak anak-anak lainnya lagi pada istirahat dan dengan kesibukan meraka masing-masing, aku lihat si cewek yang kusuka tadi ada di sana juga.Ā  “hey.. men, what do you want?” kalimat itu yang ada di otakku. Kemudian si cowok itu tanya, “lo suka sama si cewek itu? emang lo nggak tau siapa gue?” aku diam sambil berpikir mau jawab apa, belum selesai mikir dan belum sempat menjawab, sambil mau pukul dia tanya lagi “okey, lo mau berantem pake cara apa? mau duel atau keroyokan?”. Jawabku “hey men, lo ngajakin gue berantem cuma gara-gara cewek? come on, bukan pada tempatnya lo ngajakin, karna nggak bakalan gue mau.” Tapi belum sempet keributan besar terjadi ada guru yang lewat dan bubar semuanya. Bukannya aku takut atau nggak berani, tapi bukan prinsipku harus memperjuangkan rasa cinta dengan berantem. “Kalo memang kamu juga suka sama cewek itu, berjuanglah dan buat dia sampai bisa mau sama kamu”. Dan aku, meskipun aku juga suka sama cewek itu tapi akan ku undurkan satu langkahku ke belakang dan majulah kamu berjuang mendapatkannya. Mundurku bukan karena aku kalah atau menghapus rasa suka ku ke si cewek itu, tapi itulah caraku menunjukkan bagaimana cintaku bersikap. Cara yang membiarkan si cewek memilih dengan hati dan logikanya, tanpa harus ada paksaan. Buatku memaksa adalah awal dari sebuah ketidak nyamanan. Hubungan dengan ketidak nyamanan maka akan menghasilkan umur hubungan yang singkat dan itu berbanding terbalik dengan prinsipku. Kondisiku memang diam tapi bila tanya hatiku maka hatiku akan menjawab “Jangan tanyakan batas cintaku, jagan ragukan rasaku yang ingin memilikimu, tiada alasan untukmu ragukan cinta dan rasaku karena meski laut terbelah dan pembelahnya pun ingin membelah rasaku belum tentu ia mampu. ”Ā Ā  Mundurku cuma satu langkah, tapi tiba-tiba aku bisa loncat dan akan sesegera mungkin ada di depan sejauh tiga langkah. Ya, setelah aku mundur dan kubiarkan si cowok mendekatinya, tapi nggak kunjung kudengar si cowok yang ngajak berantem tadi jadian sama si cewek yang kusuka. Eh, tak dinyana si cewek malah jadian sama kaka kelas, haha.. it is silly. Naik kelas dua bener-bener hampir lost contact sama si cewek itu, padahal kita masih seruang ketika mata pelajaran tertentu. Udah naik kelas tiga kita pun masih dengan suasana yang sama, tapi kali ini dapat kabar si cewek udah bubar sama pacarnya. Mulai deh aku berani komunikasi sama dia, coba-coba menawarkan ruang untuk sharing. Kembali, itulah caraĀ  cintaku bersikap, dengan menawarkan ruang sharing, dengan menjadi pendengar yang baik, dengan menjadi penyedia options-options yg harus dia lakukan. And finally, makin hari makin akrab dan ternyata dia mau jadian sama aku “hey God, this is really?” dan ya.. memang benar, ini memang terjadi, dan mundurnya satu langkahku tidak sia-sia. Pertanyaannya sekarang, “kenapa kok aku gak pacaran sama cewek lain sebelum akhirnya aku jadian sama si cewek itu?Well, jawabannnya sederhana “Aku bukan tipe orang yang mudah jatuh cinta, dan tidak mudah buatku menghilangkan rasa cinta yang sudah ada”. Dan sampai lulus SMP aku masih jalan sama si cewek itu.

Bergerak ke SMA, di SMA ternyata aku dan dia masih boleh diketemukan di Sekolah yang sama. Hari-hari bersama, makan bareng, maen kerumahnya, kadang maen kerumah temen-temen kita. Begitulah hari-hari di kelas satu SMA. Tapi menjelang naek ke kelas dua mulai ada kerenggangan, kita sedikit mengurang ketemuan, kurang komunikasi, kurang maen bareng. Usut punya usut ternyata dia punya tambatan lain. Dan benar dia memutuskan untuk mengakhiri cerita cinta kita. Pikirku itu bukan salah si cewek dan cowok barunya, itu salahku. Aku salah karena aku kurang lagi perhatian, kurang komunikasi dan kurang ketemu karena sibuk dengan teman-teman sekelasku. Tapi, nggak pernah sekalipun aku mendua, karena buatku Setia itu bukan setiap tikungan ada, tetapi Setia itu adalah kondisi, kondisi yang menempatkannya berdiri sama tinggi dengan yang namanya Harga Diri, jadi buatku kalau orang yang suka gonta ganti pasangan itu malah bukan keren tapi harga dirinya perlu dipertanyakan. Kita bubar dan kita sudahi rasa selama ini. Naik kelas dua SMA udah jarang komunikasi dengan dia, tapi tiba-tiba ada temannya si cewek cerita, “eh bay, tau gak, dia berubah, sekarang bandel, coba deh dinasehati”. Bubaran bukan berarti nggak care lagi, tetep respect tapi beda dimensi, karena bukan caraku kalo udah bubar trus jadi sok acuh. Kucoba komunikasi sama dia, kutanya kenapa begini kenapa begitu. dan tanggpannya cuma “ya ya ya”, cukup aku coba menasehati, kalo gak mau dengar ya “sok lah atuh, maneh jalan dengan cara maneh sendiri.” Kabar terakhir ternyata dia harus putus sekolah karena harus menikah dengan pacarnya dengan sesuatu alasan. Senyum dan rasa sayang sebagai jawabku, sayang disini maksudnya sayang banget padahal dia masih muda, masih banyak yang harus dia lakukan untuk semua cita-citanya. tapi itulah pilihan dan resiko yang harus dijalaninya. Tapi aku tetep nanggepin ketika dia mau sharing, karena dia nggak butuh cacian atau cemoohan. Yang dia butuh adalah perhatian dan rasa dianggap sebagai teman, karena banyak temannya yang mulai meninggalkannya. Tapi aku memilih untuk tetap menerima ketika dia mau cerita-cerita, itu bukan karena aku masih suka sama dia kawan, tapi itu hanya usahaku supaya dia tetap merasa ada yang menganggap dan jangan sampai dia menyesal sudah hidup tapi karena pilihannya yang konyol akhirnya dia hancur dan terhempas sendiri dengan buaian-buaian kedagingannya. MenurutkuĀ  sayang itu nggak harus diungkapkan dengan bunga-bunga yang mewah, kita care, kita respect, dan kita mau menjadi pencipta solusi buat dia, itu sudah cukup untuk memberitaukan ke dia kalau kita tetap sayang sama dia meski dia telah salah dan dia akan merasa tetap berharga meski kesalahannya besar. Kita bukan hakim yang bisa menentukan kesalahannya dimana, “cobalah untuk jangan menghakimi karena menghakimi sudah menjadi pekerjaan TUHAN dan jangan suka menuduh karena menuduh adalah kebiasaan si iblis“, kita cuma sahabat yang harusnya membuat dia nyaman dan kemudian mau bangkit dari kesalahan-kesalahannya dan melakukan hal-hal yang lebih bermanfaat bagi orang lain.

Okey, dengan cerita masa-masa sekolahku di atas aku bisa kasih tau gimana cara cintaku bersikap dan sikap itu sifatnya permanen sampai hari ini, besok dan mungkin sampai aku bisa menurunkannya ke anak dan cucuku. Tapi mungkin saja masih banyak sikap-sikap yang lain di luar sana, dan itu tergantung pribadi masing-masing. Dan itu tadi, cobalah jangan memaksakan sebuah hubungan, karena hubungan yang diawali dengan paksaan hanya akan menghasilkan hubungan yang berumur singkat. Sama halnya kalau kita berhubungan tapi beda iman. Kita sehati, kita saling sayang, saling tau sama lain. Tapi itu hanya bersifat sementara karena kita tidak akan bisa melangkah ke level berikutnya. Jika kita mau ke level berikutnya maka salah satu dari kita harus merelakan diri untuk berhianat sama Tuhannya. Nah.. “Tuhan aja dihianati, bagaimana dengan pasangan kita nanti kalau akhirnya kita akan menikah dengan dia?” Di hampir 99% film Indonesia yang menceritakan cinta beda iman maka endingnya pasti akan anti klimaks, karena si sutradara tidak berani menentukan siapa yang harus mengalah dan berhianat kepada keyakinannya. Dan itu memang benar, nggak akan ada yang berani menentukannya kecuali pribadi kita sendiri. Akhirnya, kembali ke kita sendiri sebagai penentunya, apa iya kita akan membuat rusak susu sebelanga hanya karena nila setitik? ilustrasinya begini, “kita sudah beribadah sejak kecil, diajari baca Kitab Suci juga sejak kecil, tapi misalnya sekarang kita sehabis beribadah dan setelah keluar dari tempat ibadah kita diberi pilihan : 1.) kalau kita mengaku kita beriman kepada siapa maka kita akan ditembak mati. 2.) kalau kita tidak mengakui iman kita maka kita akan selamat. Pilihan ada di tangan kita sendiri, apakah kita harus merelakan apa yang sudah kita lakukan sejak kecil hanya untuk keselamatan di dunia? ” Satu rumus yang akan kupakai untuk menjawab pilihan itu jika ditujukan kepadaku, rumus itu adalah “siapa menyangkal AKU di bumi, maka akan KU sangkal dia di sorga”

TUHAN memberkati..!!

About bayyudwisusanto


One response to “Bagaimana Cintamu Bersikap?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: