Hari-Hari Kita itu Seperti Sebuah Proses, dan Setiap Proses Menghasilkan Sebuah Perubahan


Siapa coba yang gak kenal sama UPH, Universitas Pelita Harapan yang kampusnya di Karawaci-Tangerang? 5 bulan setelah aku kerja di Bekasi, dan mungkin karena dirasa ternyata aku tahan dengan tempa’an yang terjadi dalam pekerjaan itu aku ditawari untuk masuk ke UPH itu tadi free. Bayangin aja, kesempatan yang datang seumur hidup sekali dan gak sembarangan orang ditawari untuk masuk sana. Tapi, ada tapinya juga.. usut punya usust ternyata harus ngambil jurusan guru bahasa inggris, Indeks Prestasi minimal 3, kalau Iindeks Prestasinya di bawah 3 langsung drop out, biaya yang dikeluarkan kampus selama kita belum di drop out harus kita ganti. Nah itu dia masalahnya, jadi guru aja buatku itu hal yang malas sekali meski hanya untuk dibayangkan. Apa lagi tantangannya Indeks Prestasi harus diatas 3, menurutku itu berat, dan belajarnya pasti dibawah tekanan, karena terbayang-bayang oleh ancaman drop out itu tadi. Sebenarnya kalau mau pakai prinsip motivator yang sering bilang “yang penting mau dulu, pasti ada jalan” ya bisa saja, meski dengan resiko yang gak main-main. Tapi, ah, tidak, aku putuskan tidak menerima tawaran kuliah gratis itu karena syarat-syarat yang terkandung di dalamnya terlalu membebani menurutku. Okey.. manusia memang harus punya prinsip, prinsip “yang penting mau dulu, pasti ada jalan” itu juga prinsip yang sangat memotivasi, tapi kalimat yang sering terlintas dikepalaku mematahakan semua dalil-dalil itu tadi, dan kalimat itu adalah “Manusia memang harus punya prinsip, tetapi jika mati konyol karena prinsip, itu BODOH namanya!!” karena kalimat itulah akhirnya aku memutuskan untuk tidak mengambil kesempatan kuliah gratis di kampus yang luar biasa itu tadi dan lebih memilih melanjutkan pekerjaanku sambil bergumam “sudahlah, kalau memang rejekinya kuliah pasti nanti ada kesempatan lagi.

Buatku hari lepas hari itu seperti sebuah proses, dan setiap proses menghasilkan sebuah perubahan, hasil akhir dari proses itu tergantung apa yang kita lakukan di dalamnya. Sebagai ilustrasinya, ya kalau kita mau bikin jus strawberry pasti kita akan memasukkan gula sebagai penetralisir rasa masamnya, tidak mungkin kan kita mau memasukkan garam ke dalam jus itu? Karena yang jadi bukan jus strawberry yang seger asem manis, tapi bisa jadi rasanya malah mirip oralit.  Ya seperti itu juga keseharian kita, cita-cita mau jadi dokter tapi tiap hari maen game.. ya gak bakalan kita jadi dokter, jadi operator warnet malah iya mungkin. Di tempat kerja begitu juga, baru kerja beberapa minggu t’rus dimarahi atasan dan kita menggerutu kemudian dendam, ya mana mungkin sukses akan datang ke kita? Boro-boro sukses, pindah-pindah tempat kerja iya maLahan. Dimarahi atasan itu memang menjengkelkan, enggak enak, bikin muntab, rasa itu akan datang dalam diri kita jika dalam otak kita ada runing text yang bertuliskan “Ah, mentang-mentang atasan, lo maen marah-marah aja sama gue, dipikir gue takut sama lo? Sama-sama makan nasinya ini toh?” itu dia yang akan membuat kita kerdil, kerdil dalam artian menafsirkan suatu tindakan yang terjadi pada diri kita. Nah, kalo runing textnya kita ubah jadi gini, “Ah, si bos marah, pasti ada yang salah sama yang gue kerjakan, gimana caranya ya biar gue gak salah lagi?” jika kalimat itu yang ada dalam otak kita, maka kedepannya pasti kita akan menjadi pribadi yang lebih kuat dan tenang dalam memutuskan segala tindakan yang akan kita lakukan. Marah, jangan anggap marah itu adalah perbuatan yang selalu dicap tidak baik, karena marah itu merrupakan salah satu wujud  perhatian. Kita salah, dan atasan memperhatikan kita yang sedang salah ini, maka dia marah supaya kita benar. Kalau atasan diam, itu lah yang harus kita pertanyakan. Karena kalau kita salah kan gak ada yang mau menegur, mau kita masuk got kek, naek genteng kek, nyebur kolam kek, gak akan ada yang marah, karena tidak ada yang perhatian sama kita.

Menjawab semua kepercayaan kecil, akan membuat kita diperhitungkan. Jangan anggap kalau kecil itu mudah dan seenak udelnya kita ngerjainnya, karena dari keberhasilan menjawab kepercayaan dalam perkara kecil maka kita akan dipercayakan mengerjakan perkara yang besar. Terkadang kita masih menganggap hal kecil itu sepele, “yaelah, ini mah enteng.. gampang itu.. ntar aja gue kerjainnya.. sekarang gue mau nyantai dulu..!!” padahal dari tadi dia ini nyantai terus kaya gak punya dosa. “Hey.. come on man, kenapa kita harus menunda pekerjaan kecil yang mudah itu? Bergegaslah mengerjakannya, karena kita tidak tau apa yang akan terjadi dan apa yang akan ditugaskan kepada kita setelahnya.” Selesaikan semua pekerjaan kecil, dan ketika pekerjaan besar datang tiba-tiba kita sudah siap dan tidak terburu-buru mengerjakannya. Sebisa mungkin kita kerjakan semua yang diperintahkan ke kita, meski terkadang itu bukan tugas kita, tapi ambil dan kerjakanlah, kemudian lihat keajaiban yang akan mendatangimu. Meski orang akan mengolok-olok kita, “dasar bego’, kerjaan bukan kerjaan lo dikerjain juga” diamkan saja dia, anggap itu intermezzo. Karena apa yang akan terjadi setelahnya? Setelah kamu berhasil mengerjakan perkara kecil yang diperintahkan kepadamu, setelah kamu juga berhasil menyelesaikan perkara besar yang diperintahkan ke kamu, dan kamu pun sudah berhasil mengerjakan perkara yang sebenarnya bukan tugasmu. Yang terjadi adalah mereka akan bergantung padamu, mereka akan mencari-carimu, karena mereka tidak bisa mengerjakan pekerjaannya sendiri. Kalau sudah begitu maka tempat kerjamu itu akan merasa kurang jika kamu tidak ada, akan merasa was-was jika kamu  belum datang, dan akan merasa takut jika kamu mengambil ijin cuti dan tidak akan kembali lagi. Jika semua berjalan terus menerus seperti itu, maka kendali ada di tanganmu. Mereka akan seperti rombongan biksu tong yang kehilangan sun go kong dalam serial Kera Sakti.  Dan jika demikian, maka tempat kerjamu akan berpikir ribuan kali untuk memberhentikanmu dari tempat kerja itu. Ini bukan sebuah kebodohan, tapi ini sebuah taktik, taktik yang dengan hasil akhir sebuah pemegangan kendali.

Okey, setelah aku berproses seperti di atas tadi, dengan semua pekerjaan yang gak enteng, dengan semua cemoohan, dengan semua yang dianggap sebuah kebodohan tapi sebenarnya itu adalah taktik, akhirnya tepat satu tahun setelah aku memutuskan untuk tidak menerima kesempatan kuliah gratis itu, akhirnya aku ditawari kuliah lagi. Kuliah kali ini ditempat yang berbeda, dengan pembiayaan yang beda, dengan jurusan yang beda, dan dengan resiko yang berbeda pula. Dengan semua kepercayaan yang dipercayakan kepadaku aku bisa kuliah dengan biayaku sendiri tanpa ada bayang-bayang drop out, dan sekarang aku sudah dalam masa akhir-akhir perkuliahanku.

Itu tadi tadi kawan, apa yang kita lakukan dalam pemrosesan itulah yang akan menetukan hasil akhirnya. Jangan terlalu cepat menghakimi orang marah kepada kita, karena marah adalah salah satu wujud perhatian. Kalau memang keterlaluan marahnya, lebih baik kita ke tempat sepi, kita diam untuk menenangkan diri, dan jangan mendendamnya, karena terkadang dalam keberdiaman terbentuk pemikiran yang bijak🙂 . Jawab semua perkara yang dipercayakan kepada kita dengan tidak bersungut-sungut, kerjakan sepenuh hati, bertutulus setulus merpati. Itu bukan sebuah pembodohan, tetapi taktik dengan hasil akhir pemegangan kedali, karena terkadang kecerdikan ular boleh kita pakai untuk menghasilkan hasil yang lebih baik lagi.

GOD BLESS

About bayyudwisusanto


One response to “Hari-Hari Kita itu Seperti Sebuah Proses, dan Setiap Proses Menghasilkan Sebuah Perubahan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: