Peng-Konversian cara Berpikir


Tahun 2006 aku lulus SMA. Kemudian rehat satu bulan dan sewaktu dimana beberapa teman sibuk mencari universitas incaran mereka,  aku putuskan untuk ke Jakarta. Di jakarta awalnya kerja di sebuah home industry, percetakan tepatnya. Memulai dunia kerja dengan taruhan kecepatan kerja, siapa yang cepat menyelesaikan kerjaan dan banyak yang diselesaikan berarti bisa makan banyak pula saat waktu gajian tiba. Cukup 3 bulan kerja di home industy itu, cukup sudah untuk tau gimana gak enaknya kerja, cukup untuk tau gimana berjuang mencari makan untuk diri sendiri,  cukup untuk tau ternyata kaya gitu tho rasanya orangtua susah payah mencari uang untuk nyekolahin anaknya.

Ya, cukup 3 bulan di home industry tadi. Kemudian dari Jakarta pindah ke Bekasi, tempat dimana sampai saat ini aku masih tinggal. Di Bekasi aku bekerja disebuah tempat yang awalnya menurutku “ah, ini sih masih dalam tahap wajar”. Kenapa begitu, karena dalam pikiranku yang kulihat di depan mata ini masih bisa dikerjakan dengan mudah. Nah.. kemudian hari lepas hari, waktu berputar sesuai ketentuannya, dan siang-malam masih datang menurut jadwalnya masing-masing, mulailah hal-hal dan kejadian-kejadian yang gak enaknya datang di tempat kerja itu. Yang dimarah-marah, disuruh ketik ini-itu, dateng harus tepat waktu tapi pulangnya ntar kalo dah ada ijin boleh pulang, tapi ya masih juga di marahin. Tekanan mulai muncul sana-sini, cerita ke temen eh temen malah bilang “ya udah tinggalin aja, dari pada makan ati”, mondar-mandir sampai orang juga bilang “yaelah tong, lo kerja mpe segitunya? kaya gak ada tempat kerja laen aja!” Pikir punya pikir, bener juga yang temen bilang, dan bener juga yang ibu tadi bilang. Tapi, ah, kalo dituruti apa kata mereka t’rus mau kerja apa aku? mau ngandelin orang tua lagi? mau memberati meraka lagi? Mana tega aku melakukannya? Akhirnya aku putuskan untuk tetap melakukan apa yang sudah aku kerjakan di tempat itu, aku tidak jadi keluar dari kerjaan, aku tidak turuti apa kata mereka. Kenapa aku tetap bekerja di tempat itu dan tidak melakukan apa yang mereka katakan? Karena menurutku, apa iya, mereka mau kasih makan ketika aku lapar kalau aku keluar dari tempat kerja dan tidak mempunyai penghasilan? Dan itulah starting point nya, “Biarkan saja apa kata mereka, toh ketika aku lapar nanti mereka tidak kasih aku makan.”

Kemudian aku teruskan kerja ditempat itu masih dengan di marah-marah, di omel-omel, sudah kaya gitu masih juga di complaint, dahsyat benar tempat kerja itu rupanya. Dan kemudian terlewat juga 1 tahun aku kerja ditempat itu, masih juga dengan marahan, omelan, dan sebagainya. Tetapi bedanya di sini adalah caraku berpikir, aku sudah bisa mengkonversi marahan itu menjadi cara berpikir baru. Misalnya, aku dimarahi karena aku terlalu lama mengerjakan kerjaanku. Kalau dipikir mentah-mentah ya memang karena kerjaannya banyak jadi ya perlu waktu lama dan banyak buat menyelesaikannya, kan butuh istirahat, butuh nafas dulu, butuh refresh otak juga. Nah, itu kalau dipikir mentah-mentah, tapi kalau sudah ku kenversikan maka hasil yang ada dalam pikiran ku adalah “o iya ya, aku dimarahi karena aku terlalu lama menyelesaikannya, nah.. kalau aku cepat menyelesaikannya kan aku bisa cepat pulang, bisa cepat istirahat di rumah, bisa makan – minum – nafas juga sepuasnya dengan kerjaan sudah beres dan aku bisa relaks tanpa harus memikirkan kerjaan yang belum beres.” Setelah aku berhasil mengkonversi satu, maka banyak hal yang awalnya menyesakkan ‘ku konversikan menjadi hal yang menurutku itu adalah pengelaman yang akan membawaku kepada kedewasaan cara berpikir. Ya itu itu tadi carakau, dari pada tenaga habis buat mikir dan menggerutu, lebih baik kupakai untuk mengkonversi gerutuan itu menjadi pengalaman baru. Tapi kadang ya tetep ada kejengkelan sehabis di marahi🙂 . Ada satu ilustrasi yang ternyata mirip caraku mengkonversi pikiran, tapi ini cuma kemiripan pengkonversian pikiran, bukan kemiripan kelakuan, ini dia ilustrasinya “Dari pada pencuri yang dipenjara itu merenungi nasibnya, kenapa dia harus mencuri, kenapa dia bisa tertangkap, kenapa dia tidak lari ke perkampungan biar bisa sembunyi aman, lebih baik pencuri itu memikirkan setelah ia bebas bagaimana caranya mencuri dan tidak tertangkap lagi” Itu tadi ilustrasinya, point of view nya adalah mengkonversi penyesalan itu tadi menjadi memikirkan cara yang nantinya akan lebih baik dan tidak terulang kegagalan sebelumnya. Karena ada yang bilang “Lebih baik memperbaiki dari pada menyesali”, dan memperbaiki itu bukan hanya yang buruk menjadi baik, yang salah menjadi benar, tetapi juga bisa diartikan memperbaiki yang gagal supaya nanti bisa berhasil, termasuk ilustrasi tadi yang awalnya mencuri tapi tertangkap menjadi mencuri dan berhasil kabur tanpa ketahuan🙂

Itu tadi ceritaku, apa ceritamu? **hallah..hallah.. itu kan website lain** Yaitulah ceritaku, bagaimana caraku mengkonversi marahan, omelan, dan sebagainya. Dengan cara itu aku bisa bertahan di tempat kerja ini selama 5 tahun, tempat kerjaku ini namanya GPIB “Pondok Ungu” Bekasi. Sekarang semua sudah banyak yang berubah, tidak semenekan dulu. Tapi karena tekanan dan pengalaman dulu juga, aku bisa melakukan hal yang dulu tidak bisa kulakukan menjadi bisa kulakukan, bahkan terlihat mudah sekarang. Buatku Pengalaman adalah guru privat yang siap dan tidak pernah terlambat mengajar pelajaran hidup dan gratis tanpa biaya sedikitpun. Ada kalanya kita berpikir “ah, gue kan lulusan ini, lulusan itu, masa’ gue kerja begitu? Gelar gue kan ini, gelar gue itu, masa’ kerja di tempat ini? Nah, pemikiran itu tadi yang mengakibatkan kenapa pengangguran di Indonesia banyak. Pemikiran yang berpikir bahwa dirinya lebih. Padahal nyatanya nol besar. Kerjakan aja dulu apa yang ada, karena kalau baru lulus kan kita belum punya pengalaman kerja, jadi kalau mau pilih-pilih ya belum waktunya. Karena awalnya kita adalah nol, dari nol itu bukan langsung lima, tatapi harus ke satu dulu, baru dua, tiga, dan seterusnya, ada juga yang dari nol ke setengah dulu. Kecuali kalau keluarga kita memang punya perusahaan yang sudah besar.

Okey, itu dia sharing kali ini, dan ada satu lagi teman. Kalau starting point nya tadi adalah “Biarkan saja apa kata mereka, toh ketika aku lapar nanti mereka tidak kasih aku makan.” Dan maksudku satu lagi tadi adalah yang menjadi the passion of the work nya, yaitu “Jangan hanya mencari berkat, tetapi carilah juga SUMBER BERKAT”.

GODBLESS

About bayyudwisusanto


One response to “Peng-Konversian cara Berpikir

  • Matheoz/theo

    Story yang cukup bagus untuk mengajarkan suatu hal kepada kita semua untuk tidak mendengarkan PENDAPAT orang laen mengenai diri kita karna yang tau diri kita ada lah diri kita sendri. Jalani apa yg ada dan syukuri itu karna itu berkat dari TUHAN.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: