Apa yang Sudah dari Kita untuk Orang Tua?


Suatu ketika aku memposting status di Facebookku dengan tulisan “Siapakah aku ini jika tanpa 2 malaikat yang dikirim Tuhan untuk membimbingku, mengarahkanku dan memotivasiku. Dan 2 malaikat itu adalah Bapak dan Ibuku.” Beberapa saat kemudian ada yang Like ada yang komen setuju, ada yang komen tidak setuju pula. Nah, aku tertarik dengan komen temenku yang mengatakan “Beda kaLeee.. ortu sama malaikat.” T’rus aku balas “Itukan sekedar perumpamaan”. Dan dia masih membalas “Gak segitunya kaLeee.” Dan balasanku “Itukan cuma kiasan”

Selesai sudah cerita Facebook itu. Kemudian ada sms masuk ke inboxku bilang “Orangtuaku memang hebat, kapan bisa membalas mereka?”. Kemudian aku balas sms itu “Kalau begitu kamu setuju dong kalau orangtua kita itu sepeti 2 malaikat yang dikirim Tuhan buat kita?”. Tetapi masih saja dia tidak setuju, kemudian aku tanya lagi “Kalau tidak setuju dengan statment ku, berarti kamu tidak setuju dengan pernyataan sorga itu ada di telapak kaki ibu?. Jawabnya “Nah, kalo sorga ada di telapak kaki ibu itu aku setuju”. Hanya senyuman manis dariku sebagai respon jawabannya.

Senyumanku tadi bukan tanpa arti, aku tersenyum karena memahami apa yang temanku maksudkan. Sebenarnya semuanya sama saja, sama-sama kiasannya. Kalau tidak setuju dengan pernyataan “orangtua sama dengan 2 malaikat kiriman Tuhan”, bagaimana kita bisa bilang kalau “sorga ada ditelapak kaki ibu”? Kalau dipahami dengan cara bodo-bodo ya bagaimana bisa coba orang tua gantikan peran malaikat? jadi malaikat aja gak bisa apalagi mau naruh sorga di bawah telapak kakinya? Pengertiannya kan gak bodo-bodo kaya itu, semua ditulis begitu kan supaya kita menghormati orang tua, supaya kita bangga sama orang tua. Orang tua gak cuma bisa dikiaskan laksana malaikat, bisa saja dikiaskan bagaikan apa saja, terserah apa yang kita mau, tetapi tujuan akhirnya menyatakan kehebatan orang tua kita.

Itulah hebatnya orang tua, apapun bentuknya merekalah yang pertama mengajari kita untuk melakukan hal-hal kecil sampai yang besar. Baru kemudian lingkungan dan sekolah. Sedari kecil kita sudah melihat perjuangan mereka hanya untuk membahagiakan kita, hanya untuk menyekolahkan kita, dan hanya untuk supaya kita tidak dikucilkan oleh teman-teman kita. Bicara tentang hal itu aku jadi ingat kata bapakku “Saya tidak bisa memberikan warisan harta melimpah kepada anak-anak saya, tetapi saya akan berusaha sekuat tenaga supaya mereka dapat bersekolah meskipun itu akan menghabiskan harta. Karena ilmu dan pendidikan akan lebih bermanfaat buat mereka kedepannya”. Dari pernyataan itu aku bisa berpikir kalau janganlah menyia-nyiakan apa yang sudah orang tua usahakan untuk kita. Aku bukan anak yang sangat pintar apalagi jenius, tetapi setidaknya aku tidak pernah tinggal kelas dan lulus SD, SMP, SMA tepat pada waktunya.

Beberapa saat setelah  lulus SMA, disaat beberapa teman sibuk memilih Universitas favorit mereka, aku berpikir bagaimana caranya membuat bangga orang tua setelah aku lulus SMA. Cara membuat bangga orang tua itu banyak, bisa dengan berhasil masuk universitas pilihan, bisa dengan membantu mengembangkan usaha mereka, bisa juga dengan berusaha mencari usaha yang nantinya bisa membuat kita berhasil dan orang tua bisa bangga dengan hal itu. Dan setelah semua yang telah orang tua berikan dan usahakan untuk kita,  pernahkah kita berpikir bagaimana membuat senang mereka dengan apa yang kita lakukan? Membuat senang meraka banyak caranya, bisa dengan menghormati mereka, mendudukkan mereka lebih tinggi dari pada kita, dan merawat mereka dikesenjaan usianya juga bisa menyenangkan hati orang tua.

Bapak dan Ibu kita itu seperti 2 malaikat kiriman Tuhan untuk kita. Dan sorga itu ada ditelapak kaki ibu kita. Dua pernyataan itu jelas, bagaimana Tuhan memposisikan mereka dalam kehidupan kita. Dua pernyataan itu jelas, apa yang akan Tuhan kasih kepada kita jika kita membuat bangga atau menyenangkan orang tua. Lulus SMA aku putuskan untuk bekerja, aku berpikir bahwa cukup 12 tahun aku dibiayai orang tua untuk mencari ilmu. Niatku waktu itu tidak muluk-muluk, hanya ingin membuat orang tua bangga dengan apa yang aku lakukan. Mencukupi kebutuhan sehari-hariku sendiri pikirku waktu itu sudah cukup meringankan apa yang orang tua tanggung dan itu bisa membuat bangga mereka. Tetapi hasil dari niat yang nggak muluk-muluk itu ternyata luar biasa. Tidak hanya aku bisa mencukupi kebutuhanku sehari-hari tetapi aku juga bisa Kuliah dengan usahaku sendiri, hal yang dulu bermimpi saja aku tidak berani tetapi setelah niat kecilku kulakukan semua itu ada dan nyata terjadi dalam kehidupanku.

Kesaksian di atas bukan niat penyombongkan diri, kesaksian itu tadi hanya untuk berbagi pengalaman. Pengalaman dari niat kecil menyenangkan hati orang tua, tetapi hasilnya begitu luar biasa yang tak pernah kita duga. Dua kalimat yang terus memotivasiku untuk selalu dan terus berusaha untuk menyenangkan orangtuaku adalah :

1.) Orang yang sukses  dalam usaha dan dalam kehidupannya adalah orang yang sukses juga merawat orang tuanya, terlebih ibunya.

2.) Hormatilah ayahmu dan ibumu, supaya lanjut umurmu di tanah yang diberikan TUHAN, Allahmu, kepadamu.

GODBLESS

About bayyudwisusanto


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: