Teguran cara TUHAN


Sahabat…

Kita hidup dengan keberadaan yang bisa dibilang cukup, bahkan lebih, meski pun kurang tapi bukan yang sekurang-kurangnya. Kita bisa bermain, kita bisa berkomunitas, kita bisa bersosialisasi, intinya kita adalah orang-orang muda atau orang-orang yang bisa dibilang beruntung. Orang tua kita punya ini, punya itu, kita bisa sekolah di sini, kuliah di situ. Keseharian kita dijejali dengan kesenangan-kesenangan yang memang sungguh menyenangkan, ya meski ada kalanya kita sedih dan rapuh. Tapi at list di usia kita yang masih sekolah atau masih muda tidak harus bekerja terlampau keras, karena orang tua kita masih mampu menghidupi kita dengan pendapatan-pendapatan mereka yang cukuplah.. bahkan lebih.

Nah.. tapi, pernah gak sih kadang kita berpikir gimana kalau kita itu tidak punya apa-apa, orang tua kita tau-tau bangkrut, kita harus bekerja karena kalau tidak kerja ya kita tidak bisa makan? Kita harus turun dijalan-jalan, kita harus berkomunitas di lampu merah-lampu merah dengan pengamen atau pengemis lainnya. Waduh.. berat gak tuh? Gak ada sekolah, gak ada kuliah, gak ada Play Station PS), gak ada Twitter, gak ada Facebook, yang ada cuma kerja dan kerja.

Itu dia tadi bro… yang kadang jarang kita pikirkan, sehingga terkadang kita mengabaikan mereka yang suka mengamen di bus-bus atau di toko-toko, bahkan di lampu merah yang kalau siang panasnya gak ketulungan. Kita anggap mereka sampah, kita anggap mereka tak berguna, kita pandang mereka sebelah mata.

Tetapi sesungguhnya, ada tetapinya nih.. secara tidak kita sadari, mereka-mereka itulah yang bisa disebut sebagai cara Tuhan. Maksudnya cara Tuhan? Ya, melalui merekalah Tuhan bermaksud menegur kita. Kita hendak diingatkan. Kita hendak disadarkan. Namanya juga Tuhan, DIA pakai cara-cara yang terkadang tidak diduga manusia atau bahkan tidak dapat dimengerti malahan. Nah.. melalui pengamen-pengamen dan pengemis-pengemis itu tadi Tuhan hendak menegur kita. Kita yang sudah berkelebihan harta dan berkelebihan kesenangan ini, hendaknya berbagi juga dengan mereka. Untung Tuhan masih menegur kita supaya kita berbagi dengan cara mendatangkan pengamen atau pengemis, bagaimana kalau Tuhan menegur kita dengan cara mendatangkan rampok, garong, jambret bahkan kapak merah, menakutkan gak tuh? Bukan harta aja yang diambil, nyawa juga bisa jadi taruhannya.

Sahabat... bukan bermaksud menggurui, cuma sekedar mengajak me-review, apa sih yang sudah kita lakukan setelah kita diberi kelebihan? Apa tidak sebaiknya kita memiliki konsep “Biarlah kelebihan kita mencukupkan kekurangan mereka, supaya nantinya kelebihan mereka yang akanĀ  mencukupkan kekurangan kita?”

GODBLESS

About bayyudwisusanto


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: